Powered by Blogger.
Latest Post

Andaikata Pengelola Setasiun TV di Indonesia Faham Pendidikan,,,,

Beberapa Istilah Untuk “Guru”

Bulan-bulan belakangan ini kita disuguhkan tontonan telivisi dengan tema utama goyangan yang mayoritas masyarakat menggandrunginya dan hanya sebagian kecil saja masyarakat yang masih sadar dan mengatakan tayangan tersebut sangatlah tidak mendidik masyarakat.
saya  sependapat  bahwa tayangan-tayangan tersebut tidak mendidik serta mengajak generasi muda hanya untuk hura-hura,  pemilik program kurang memahami hakikat pembangunan  kualitas manusia indonesia tetapi  yang ada hanya mengejar rating dalam kaca pandang logika bisnis.
Saya berangan-angan bila orang-orang yang berkecimpung dalam pembuatan program tontonan di televisi itu memahami konsep pentingnya peningkatan kualitas  manusia dalam arti kata memahami hakikat pendidikan minimal mengetahui elmen pendidik secara substansi yakni kata "Guru" tentu tayangan-tayangan yang belakangan marak akan lebih berkualitas dalam mengedukasi masyarakat.

Berikut ini gambaran sekilas tentang hakikat guru, dalam hazanah pemikiran Islam, istilah guru memiliki beberapa istilah seperti “ustadz”, “mu’allim”, “muaddib” dan  “murabbi”. Beberapa istilah untuk sebutan “guru” itu berkait dengan beberapa istilah untuk pendidikan yaitu “ta’lim”, ta’dib” dan “tarbiyah” sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Istilah mu’allim lebih menekankan guru sebagai pengajar, penyampai pengetahuan (knowlwdge) dan ilmu (science); istilah mu’addib lebih menekankan guru sebagai pembina moralitas dan akhlak peserta didik dengan keteladanan; dan istilah murabbi lebih menekankan pengembangan dan pemeliharaan baik spek jasmaniah maupun ruhaniah. Sedangkan istilah yang umum dipakai dan memiliki cakupan makna yang luas dan netral adalah ustadz yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “guru”. 

Dalam bahasa Indonesia terdapat  istilah guru, disamping istilah  pengajar dan  pendidik. Dua istilah terakhir  yang merupakan bagian tugas terpenting dari guru yaitu mengajar dan sekaligus mendidik siswanya. Walaupun antara guru dan ustadz  pengertiannya sama, namun dalam praktek khususnya di lingkungan sekolah-sekolah Islam,  istilah guru dipakai secara umum, sedangkan istilah ustadz dipakai untuk sebutan guru khusus yaitu yang  memiliki pengetahuan dan pengamalan agama yang “mendalam”. Dalam wacana yang lebih luas, istilah guru bukan hanya terbatas pada lembaga persekolahan atau lembaga keguruan semata. Istilah guru sering dikaitkan dengan istilah bangsa sehingga menjadi guru bangsa. Istilah guru bangsa muncul ketika sebuah bangsa mengalami kegoncangan struktural dan kultural sehingga hampir-hampir terjerumus dalam kehancuran. Guru Bangsa adalah orang yang dengan keluasan  pengetahuan, keteguhan komitmen dan kebesaran jiwa dan pengaruh serta keteladanannya dapat mencerahkan bangsa dari kegelapan. Guru bangsa dapat lahir dari ulama/agamawan, intelektual, pengusaha pejuang, birokrat dan lain-lain. Pendek kata, dalam istilah guru mengandung nilai,  kedudukan dan peranan  mulia. Karena itu di dunia ini banyak orang yang bekerja sebagai guru, akan tetapi mungkin hanya sedikit yang bisa menjadi guru yaitu yang bisa  digugu dan ditiru.

Kedudukan Guru.

Hampir di semua bangsa yang beradab, guru diakui sebagai suatu profesi khusus. Dikatakan demikian karena profesi keguruan bukan saja memerlukan keahlian tertentu sebagaimana profesi lain, tetapi juga mengemban misi yang paling berharga yaitu pendidikan dan peradaban. Atas dasar itu dalam kebudayaan bangsa yang beradab guru senantiasa diagungkan, disanjung, dikagumi, dihormati karena perannya yang penting bagi eksistensi bangsa di masa depan. 
Telah banyak peneliti dan penulis buku tentang pendidikan Islam yang menkaji tentang kedudukan guru dalam pendidikan Islam. Para penulis itu antara lain seperti AlGhazali, M. Athiyah al-Abrasyi, Asama Hasan Fahmi, M. Zafar Iqbal telah mengemukakan kedudukan guru yang sangat mulia dalam pandangan Islam. Pada umumnya mereka mengemukakan kemuliaan  guru secara normatif berdasarkan pandangan Al-Qur’an,  al-Sunnah dan pandangan para ulama, dan hanya sedikit yang mengkaji dari perspektif kedudukan guru secara sosiologis yang meliputi status sosial dan perannya  di masyarakat dan tanggungjawab masyarakat dan  pemerintah terhadap guru.
Secara normatif kedudukan guru dalam Islam sangat mulia. Tidak sedikit penulis yang menyimpulkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan Nabi dan Rasul,  seraya mengemukakan Hadits Nabi dan perkataan ulama: “Tinta para ulama lebih baik dari darahnya para syuhada”. Penyair Syauki sebagaimana dikutip al-Abrasyi berkata:
Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang Rasul”.
 Hampir bisa dipastikan bahwa yang dimaksud guru sebagaimana dalam Hadits dan syair di atas adalah seorang ulama yang sempurna (al-ulama al-rasyidun), yaitu seorang guru yang telah tercerahkan dan mampu mencerahkan muridnya, bukan semata-mata guru sebagai pekerja yang menjadikan pekerjaan mengajar semata-mata sebagai media mencari nafkah. Kedudukan guru memang terhormat dan mulia apabila yang menduduki jabatan itu juga orang terhormat dan mulia. Sebab kehormatan dan kemuliaan itu tidak hanya terkait secara struktural, tetapi yang lebih penting adalah secara substansial dan fungsional. Itulah sebabnya para tokoh pendidikan Islam menetapkan kode etik dan persyaratan untuk menduduki jabatan guru agar kedudukan yang mulia itu benar-benar diisi oleh orang yang mulia atau minimal tidak merendahkan kedudukan dan martabatnya itu.

Penghargaan Islam yang tinggi terhadap guru (pengajar) dan termasuk penuntut ilmu (terdidik) sebenarnya tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan penghargaan islam terhadap ilmu pengetahuan dan akhlak. Ini berarti bahwa guru yang memiliki kedudukan mulia adalah guru yang menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki akhlak dan mampu memberdayakan si terdidik dengan ilmu dan akhlaknya itu. Karena itu seseorang menjadi mulia bukan semata-mata secara struktural sebagai guru, melainkan secara substansial memang mulia dan secara fungsional mampu memerankan fungsi keguruannya yaitu mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan bangsa.
nah, bila sudah faham hakikat guru sebagimana yang terurai di paragraf atas maka hakikatnya kita adalah seorang guru (setiap manusia berkewajiban mewariskan peradabannya kepada generasi penerusnya) maka setiap perbuatan. tindakan, ucapan, ide/gagasan senantiasa akan memberikan keteladanan, hikmah dan kebijaksanaan dalam kesehariannya kepada masyarakat luas. Mari Buka Mata dan Buka Hati untuk Indonesia yang lebih Baik.....


Soal UTS

SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (STISIP) MUHAMMADIYAH MADIUN
========================================================================
SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) 
MK STUDI ISLAM DAN KMD 1
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semester                      : I (Satu)
Jurusan                        : Tarbiyah
Prodi                             : Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Komunikasi
Sifat                              : Take Home
Dosen                           : Arif s
 
Petunjuk Teknis:
1. Jawaban ditulis pada kertas folio bergaris.
2. Menggunakan ballpoint tinta warna hitam atau biru.
3. Panjang tulisan minimal 4 halaman (2 lembar), maksimal 8 halaman (4 lembar).
4. Jawaban menggunakan bahasa indonesia baku sesuai dengan kaidan ilmiah
5.  Haram bekerjasama, dan apabila ditemukan jawaban yang mirip 
    (baik dari penyusunan kata maupun improvisasi jawaban), 
    tidak ada toleransi
6. Lembar Jawaban Dikumpulkan
Hari        : Senin, 25 November 2013
Jam        :pertama
Tempat  : Kantor 
 
soal 
1.   a. menurut anda bagaimana  paradigma konsep  korelasi  manusia dengan sang
          pencipta dalam  Islam!
      b. Bagaimana pandangan anda tentang Tuhan dan Agama?
      c. Jelaskan pendapat Anda tentang tujuan penciptaan manusia ?
      d.  “Lebih baik tak beragama tapi baik dalam berkehidupan daripada beragama tapi    
           berperilaku buru dalam berkehidupan”. Bagaimakah pandangan anda mengenai 
            hal ini ?
       e. Agama islam sejak diturunkan membawa misi sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin,
           bagaimana  tanggapan anda? apakah  konsep  Rahmatan Lil ‘Alamin pada era
            modern sudah terlaksana? 
 
2. Chase Analysis :
    Dunia Islam erat sekali dengan tuduhan-tuduhan dan isu-isu aksi terorisme, dimulai
     dari pelanggaran hak-hak perempuan hingga peristiwa kontroversial WTC 9/11. 
     a. Apakah Islam beserta ajarannya mengajarkan kekerasan ?, Jelaskan !
     b. Jelaskan pandangan anda tentang sebuah film berjudul “Act of Valour” ! 
 
 
 
 
There is no guarantee that you will be successful if you work hard.
But there is no success without hard work

Satuan Acara Perkuliahan SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

NAMA MATA KULIAH     : Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 1 

KODE MATA KULIAH      :-

JURUSAN                           : Ilmu Komunikasi & Ilmu kesejahteraan Sosial
SEMESTER/Kelas               : 1 (Satu)/1
SKS                                     :  2 (dua)
DOSEN PENGAMPU         : Arif Sugianto

Pendahuluan
MK AIK adalah perkuliahan Studi Islam dan kemuhammadiyahan  yang dikemas secara intensif,yang wajib ditempuh mahasiswa selama 4 semester yang terdiri dari AIK 1, AIK 2, 4 dan 4. Materi AIK 1 terdiri dari dasar-dasar ke islam dan kemuhammadiyahan.

Metode Perkuliahan
Tutorial dan tanya jawab
Penugasan
Konsultasi

Materi  Perkuliahan
Kontrak Belajar
Pengenalan  Al-Qur’an.
Nuzulul Qur’an dan Kodifikasi al-Qur’an.
Mukjizat Al-Qur'an
Metode, dan  Pendekatan Menafsirkan Al-Qur’an.
Praktek Menafsirkan Ayat dengan Metode Maudhu’i (tematik)
Tata Cara Shalat Sesuai Nabi
Pengantar Studi Hadis
Pengantar Fiqih Ibadah
Thaharoh
Shalat Tathawu’
Perawatan Jenazah
Muhasabah
Fiqih Nikah
Zakat dan Waris
Sejarah Muhammadiyah
Islam kontemporer
Setudi Agama-Agama
Ideologi Gerakan Muhammadiyah
Faham Islam dalam Muhammadiyah
Manhaj Tarjih Muhammadiyah
Pedoman Hidup Islami warga Muhamadiyah
Keorganisasian dalam Muhammadiyah
Pengelolaan amal usaha Muhammadiyah
Pembelajaran Kemuhammadiyahan

Evaluasi:

Mahasiswa berhak mendapat penilaian jika telah memenuhi presensi kehadiran minimal 75% sbb:
Middle test 25%
 Final test 50%
Penugasan 15%
Keaktifan di kelas 10%

Aksentuasi Penilaian:
 Analisis
Logika berpikir dalam tulisan  Referensi

Referensi
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Majelis Tarjih, (Jokyakarta: PP. Muhammadiyah.
Achmad Jainuri, Muhammadiyah Gerakan Reformasi Islam, Surabaya: Bina Ilmu, 1993. 
AK Pringgodigdo,  Sejarah Pergerakan Rakya Indonesia,  Jakarta: Dian Rakyat, 1977.
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam 1900-1942
Mustafa Kamal Pasha, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam (dalam Perspektif Historis dan Ideologis),tt.
Solichin Salam, “Riwayat KH Achmad Dahlan" Muhammadiyah Setengah Abad, Jakarta: Departemen Penerangan, 1062
-------------------, K.H. Ahmad Dahlan: Tjita-tjita dan Perjuangannya, Jakarta: Depot Pengadjaran Muhammadiyah, 1962.
Majelis Tarjih Dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buku Panduan Munas Tarjih ke 26 , (Jokyakarta : MTPPI PP Muhammadiyah, 2003) 
An-Najah, Ahmad Zain, Metode Penggunaan Rukyat dan Hisab, dan Pengaruhnya Terhadap Persatuan Umat, (Padang: MTPPI PP Muhammadiyah , 2003)
———-, Mengkaji Ulang Sikap Muhammadiyah Terhadap Hadist Ahad, (Makalah, 2004)
Peacock, James L., Gerakan Muhammadiyah memurnikan ajaran Islam di Indonesia, (Jakarta: Cipta kreatif,  1986.)
Siregar, Hamka, Mencari Format Baru Tarjih Muhammadiyah. (Padang: MTPPI PP Muhammadiyah , 2003)
 Lubis, Arbiyah, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh,Suatu Studi Perbandingan (Jakarta : Bulan Bintang)
Keputusan Munas Tarjih XXV tentang Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam



Hak dan Kewajiban Mahasiswa-Dosen

Kewajiban Mahasiswa

 Mahasiswa datang tepat waktu dan tidak diperkenankan masuk kuliah jika terlambat lebih dari 15 menit.
Mahasiswa wajib memakai pakaian rapi, sopan, dan tidak diperkenankan memakai kaos oblong, sandal/sepatu sandal.
Mahasiswa wajib menjaga suasana kelas yang tenang, kondusif, dan tidak diperkenankan membuat onar/gaduh ruang
kelas, tidak diperkenankan membunyikan alat-alat elektronik (HP) serta tidak diperkenankan merokok, makan selama
kuliah berlangsung.
 Mahasiswa wajib berpenampilan yang santun, Islami, dan tidak diperkenankan memakai asesoris yang tidak pada
tempatnya (tidak boleh mamakai anting-anting, giwang, tak berambut gondrong, tidak boleh mamakai baju “adik”).

Hak Mahasiswa

 Mahasiswa berhak meninggalkan kelas/tidak kuliah jika dosen terlambat lebih dari 15 menit.
Mahasiswa berhak mendapatkan materi jika dosen tidak hadir/berhalangan untuk memberikan perkuliahan pada waktu
tertentu.
Mahasiswa berhak menegur atau mengingatkan dosen jika waktu perkuliahan telah habis dan jika materi yang disampaikan menyimpang dari SAP yang disepakati.
Mahasiswa berhak bertanya tentang materi perkuliahan kepada dosen jika belum jelas/paham.
Mahasiswa berhak meminta klarifikasi nilai akhir kepada dosen.

Kewajiban Dosen
Dosen wajib memberi materi kuliah sesuai materi yang sudah disepakati.
Dosen wajib memakai pakaian rapi, sopan, dan tidak memakai kaos oblong, sandal/sepatu sandal.
Dosen wajib menjawab pertanyaan mahasiswa atas materi yang diterangkan jika belum dimengerti/belum paham.
Dosen wajib menunjukkan rekapitulasi nilai, jika mahasiswa meminta klarifikasi.
Dosen wajib mengubah nilai akhir jika terjadi kesalahan input data.
Dosen berhak memberikan klarifikasi nilai akhir jika mahasiswa meminta.

Hak Dosen

Dosen berhak menegur, mengingatkan, bahkan memberikan sanksi pada mahasiswa yang tidak mengindahkan aturan
main perkuliahan yang telah disepakati.
Dosen berhak memberikan tugas atas mata kuliah yang diajarkan untuk pengayaan materi.
Dosen memiliki otonomi menentukan soal-soal ujian.
Dosen berhak menolak klarifikasi nilai akhir jika mahasiswa tidak mematuhi aturan main perkuliahan.



INSPIRASI KELAHIRAN GIE GIE BARU

Judul Buku     : SOE HOK-GIE…sekali lagi 
Editor              : Rudy Badil, Luki Sutrisna Bekti,
                           Nessy Luntungan
Penerbit          : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan          : Desember 2009
Tebal               :XXX+510 Halaman
Peresensi        : Arif Sugianto*

Mandalawangi-Pangrango
….“hidup adalah soal keberanian ,
Menghadapi jang tanda tanja
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa bisa kita menawar
Terimalah, dan hadapilah”
Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun jang membara
Aku terima itu semua melampui batas2 hutanmu,
Melampui batas2 djurangmu
Aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanianmu
Adalah peninggalan dari seorang cendekia muda bernama Soe Hok-gie, anak keempat dari lima saudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan lahir di Jakara tanggal 17 Desember 1942, Gie demikian disapa, sejak kecil amat suka membaca, mengarang, dan memelihara binatang. Keluarga Gie tinggal bilangan Kebon jeruk, di rumah yang sangat sederhana di pojok jalan, bertetangga dengan orang tua Teguh Karya. Saudara laki-lakinya, yang kita kenal dengan nama Arief Budiman.

Sejak SMP Gie gemar menulis catatan harian, termasuk surat-menyurat dengan kawan dekatnya. Semakin besar sikap kritis dan berani menghadapi ketidakadilan semakin besar, termasuk melawan tindakan semena-mena sang guru. Sekali waktu Gie pernah berdebat dengan guru SMP-nya. Hal ini tentu saja membuat sang guru naik pitam.Dalam catatan hariannya , Gie menulis: ”Guru model gituan, yang tidak tahan kritik boleh masuk kranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalul benar. Dan murid bukan kerbau.”
Sikap kritisnya semakin berkembang ketika Gie mulai berani  mengungkit kemapanan. Misalnya, saat dirinya menjelang remaja, Gie menyaksikan seorang pengemis sedang makan kulit buah mangga. Dia pun merogoh saku, lalu memberikan uangnya yang cuma Rp 2,50 kepada pengemis itu. Dicatatan harianya Gie menulis : “Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga,’paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu orang malang.”
Gie melewatkan pendidikannya di SMA kanisius, dengan bacaan dan pelajaran yang diterimannya membentuk Gie menjadi pemuda yang percaya akan hakikat hidup, menjadikan dia pemberontak ketidakadilan. mnelalui pemikirannya bak air yang tek terbendung. Semua mengalir bebas tanpa penah menengok berbagai batasan, baik politik, social, ekonomi, maupun budaya, saat Gie masih remaja tangggung misalnya, di sudah menunjukkan independensi pikirannya melelui tulisannya yang cukup berani untuk pemuda seusiannya. Dia mengkritik kesenjangan ekonomi yang semakin lebar pada masa orde lama. Gie kesal dengan perilaku para pemimpin yang malah sibuk makan-makan dengan istri-istri cantiknya. Gie pun menyengat,”kita, generasi kita,, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau, kitalah generasi yang akan memekmurkan Indonesia.” Gie memeng sosok yang keras baik dalam sikap intelektual dan politik,  sikap politiknya sangat jelas yaitu demokrasi, bagi Gie, demokrasi adalah sistem yang menjamin kebebasan dasar manusia tanpa sarat.oleh karena itu , demokrasi perlu dibela dari kekuatan-kekuatan ideologis yang berpotensi membatalkannya.
Kematangan politik Gie terbentuk sejak dia diterima sebagai mahasiswa sejarah di Fakultas Sastra  Universitas Indonesia pada akhir tahun 1961. waktu itu Fakultas Sastra adalah gudang pemikiran dan pergerakan politik yang sangat dinamis, sehingga menjadikan sosok Gie memasuki frase baru  dalam perkembangan intelektualnya, Gie semakin mengembangkan sikap kritis terhadap politisasi dan kooptisasi pikiran-pikiran akademis oleh kekuatan politik. Hal ini ditunjukkan dengan menyerang pidato pengukuhan guru besar dekan fakultas Sastra benama Sutjipto Wirjosuprapto, dalam pidatonya Sutjipto memuji-muji pikiran soekarno dan alpa mempertahankan intregritas dan indepindensi akademik sebagai seorang sivitas akademika. Bagi Gie universitas adalah benteng terakhir cendekia republik yang semestinya imun terhadap barbagai kooptasi politik.
Integritas independensi Gie sebagai cendekia ditunjukkan ketika mengambil posisi netral di tengah pertikaian politik kampus  antara GMNI dan HMI di FSUI. Dua organisasi mahasiswa dengan afiliansi politik yang berbeda itu  membuat Gie mengambil jalan yang berbeda. Gie bersama mahasiswa lainnya  mengambil jalan politik indepeenden, jalan polotik ini ditempuh guna untuk merebut kembali  kemuliaan universitas sebagai kawah candradimuka para cendekia.
Semasa mahasiswa hari-harinya  diisi dengan demo, termasuk rapat penting  disana-sini, tahun 1966 ketika mahasiswa tumpak kejalan melakukan aksi Tritura Gie termasuka dalam barisan paling depan, dan Gie termasuk tokoh kunci terjadinya aliansi mahasiswa ABRI tahun 1966. Gie sendiri dalam Catatan Seorang Demonstran menulis soal demokrasi : “Malam itu aku tertidur di fakultas Psikologi, aku lelah sekali, lusa lebaran dan tahun baru yang ama akan segera berlalu. Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup. Dia adalah tapal batu dari pada perjuangan mahasiswa Indonesia. Batu tapal dari  revolusi Indonesia dan batu tapal dari sejarah Indonesia. Karena yang dibela adalah keadilan dan perjuangan.”
Selain aktif melakukan demonstrasi Gie juga termasuk penulis produktif di media masa seperti di Kompas, Harian kami, Sinar harapan, mahasiswa Indonesia dan lain-lain. Untuk media kompas Jakob Oetama memberi kesaksian, “Soe termasuk penyumbang berita dan artikel yang rajin untuk Kompas, sambil menyerahkan tulisan  atau mengambil honorarium, kami sering berdiskusi, topik dan tema tentang apa saja, sebagian besar tentang perkembangan politik.” Dan dalam catatan hariannya Soe menulis: “pagi-pagi saya ke jakop untuk menyerahkan karangan saya. Ia bicara tentang The Philosophy of Moderation. Ia yakin bahwa semua relative…. Jakob juga bercerita soal sumantri yang minta agar Soe dikendalikan sedikit. Ia punya potensi, radikat tapi saying sekali kalau ia sampai terisolasi. Menurut Jakop kalau saya sampai terisolasi, saya akan berdiam diri atau kecewa dan akhirnya ke luar negri.”
Aktifitas organisasi Gie dilalui dengan mendirikan organisasi Mahasiswa Pencinta Alam UI (Mapala), organisasi ini dibangun berdasarkan aspirasi akan kehidupan yang sederhana, berani, bersahabat, dan mencintai alam. Gie dengan Mapalanya untuk mengasingkan diri dipuncak-puncak gunung sambil berfikir tentang semakin hancurnya perkembangan politiknya di tanah air. Sampai akhirnya dengan Mapalanya juga Soe mencapai ajalnya di puncak  tertinggi di tanah jawa itu.
 Kehadiran buku SOE HOK-GIE  kumpulan kesaksian teman, sahabat, simpatisan dari Gie dan juga beberapa tulisan yang termuat dimedia massa, merupakan bukti buku, pesta, dan cinta dialam bangsanya yang merupakan motto dari UI benar-benar tergambar jelas dalam buku ini. Dalam situaasi politik negri kita di penghujung tahun 2009 dan awal tahun 2010 terasa bergemuruh, dimulai dengan aksi terorisme yang mengebom dua hotel berbintang, hingga akhirnya mereka berhasil di buru Densus 88 dan “terbunuh ” satu per satu sampai puncak pimpinannya.
Pemilu 2009 digelar dan SBY-Budiono terpilih menjadi pemenang, disusul rebut-ribut jatah kursi cabinet SBY jiled-2, upacara fit and proper test pun bagai sinetron komedi tak lucu  yang tidak mengundang rasa ingin tahu. Sebab sudah bisa ditebak sebelumnya bahwa semuannya ada kepentingan “politik”.Gunjingan tentang KPK, Komisi Pemberantas Korupsi dan perkara lainya yang ramai, rakyat hanya dibikin heran menonton “Infotainmen persetruan” Antara  KPK-Kepolisian-Kejaksaan yang hamper  ditayangkan di media. Nampaknya persetruan “cicak” dan ”buaya” semakin seru saja hingga Presiden mengeluarkan kebijakannya. Selain itu munculnya kasus Prita, pencuri dua buah kakau, semangka masuk bui, dan semakin tidak rasionalnya kasus bank Century, bencana alam terjadi beruntun, dan negri tetangga sibuk mengutil seni-budaya kita.
Bila Gie masih hidup apa reaksinya? Apa pula tindakanya? Tetapi bukan menginginkan Gie hidup didunia lagi melainkan melalui buku ini bangsa mengharapkan kehadiran Gie-Gie baru yang akan bersuara lantang membela kebenaran. Jadi buku ini wajib dibaca pelajar, mahasiswa atau siapa pun yang ingin bangsa ini menjadi baik.

*Pengkaji dan peneliti pada Forum Studi Islam FORSIFA Universitas Muhammadiyah Malang
 
Support : Creating Website | giea sugianto | Mas giea
Copyright © 2011. AKSETISME.com - All Rights Reserved
Template Created by gea creative Published by Mas giea
Proudly powered by 503