Latest Post
Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts
09:13
FILSAFAT AGAMA; MENGOREK EKSISTENSI TUHA
sesungguhnya ilmu ketuhanan atau yang oleh para pemikir islam disebut sebagi ilmu
tauhid atau ilmu kalam, urgensitasnya terletak dalam mengkaji akidah dari suatu
agama tertentu dan upaya untuk
mendukungnya dengan berbagai argument kuat dan logika. Adapun filsafat agama
melangkah lebih jauh lagidari pada ilmu-ilmu ketuhanan, karena ia mengkaji
ulang beberapa terminology universal
yang biasa digunakan dalam ilmu pengetahuan dan mempelajarinya secara keritis, seperti hakekat Allah, wahyu,
maksiat, ibadah dan lain sebagainnya.
Filsafat agama menurut pakar filasat kunotermasuk kategori ilmu metafisik. Kemudian ia terlepas darinya dan berdiri sendiri. Menurut sebagian pengikutnya, filsafat agama ini sebagai gerakan dalam memerangi agama. Sementara yang lain melihat sebagi upaya untuk mendukung keyakinan agama dan memperkuat ajarannya. Ada banyak aliran dalam filsafat agama diantarannya adalahaliran ketuhanan (Madzhab at-ta’lih) dengan segala cabangnya seperti doktrin tauhid (Monoteisme); syirik;kesatuan wujud (wahdatul al wujud) dan aliran naturalism dalam ketuhanan (madzab at thabiah al ilahiyah); dan paham anti tuhan (ateisme) dan lain sebagainnya.
Filsafat agama dalam mengkaji islam lebih mengarah pada pada upaya maksimal mencari jalan menuju tuhan dan berusaha meyakini secara nalar sertalogika dengan jalan apa pun.
Filsafat agama menurut pakar filasat kunotermasuk kategori ilmu metafisik. Kemudian ia terlepas darinya dan berdiri sendiri. Menurut sebagian pengikutnya, filsafat agama ini sebagai gerakan dalam memerangi agama. Sementara yang lain melihat sebagi upaya untuk mendukung keyakinan agama dan memperkuat ajarannya. Ada banyak aliran dalam filsafat agama diantarannya adalahaliran ketuhanan (Madzhab at-ta’lih) dengan segala cabangnya seperti doktrin tauhid (Monoteisme); syirik;kesatuan wujud (wahdatul al wujud) dan aliran naturalism dalam ketuhanan (madzab at thabiah al ilahiyah); dan paham anti tuhan (ateisme) dan lain sebagainnya.
Filsafat agama dalam mengkaji islam lebih mengarah pada pada upaya maksimal mencari jalan menuju tuhan dan berusaha meyakini secara nalar sertalogika dengan jalan apa pun.
Label:
Filsafat,
PEMIKIRAN KRITIS,
pemikiran pendidikan,
SOSIAL
14:37
Telaah pemikir pendidikan Islam Ibnu Sina, Ikhwan Al-shafa, dan Ibnu Khaldun
A. Pendahuluan
![]() |
| Karya Ibn Sina |
Pendidikan adalah sesuatu yang esensial bagi manusia. Manusia bisa menghadapi alam semesta demi mempertahankan hidupnya agar tetap survive melalui pendidikan. Karena pentingnya pendidikan, Islam menempatkan pendidikan pada kedudukannya yang penting dan tinggi dalam doktrinya .
Memasuki abad ke XXI atau milenium ketiga di dunia pendidikan di hadapkan pada berbagai masalah pelik yang apabila tidak segera diatasi secara tepat tidak mustahil dunia pendidikan akan ditinggal oleh zaman. Kesadaran akan tampilnya dunia pendidikan dalam memecahkan dan merespon berbagai tantangan baru, yang timbul pada setiap zaman adalah suatu hal yang logis, bahkan suatu keharusan hal yang demikian dapat dimengerti, mengingat dunia pendidikan merupakan salah satu pranata yang terlibat langsung dalam mempersiapkan masa depan umat manusia. Kegagalan dunia pendidikan dalam menyiapkan masa depan umat manusia adalah merupakan kegagalan bagi kelangsungan kehidupan bangsa.
Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia sangat terkait erat dengan kegiatan dakwah islamiah, pendidikan Islam berperan sebagai mediator dimana ajaran Islam dapat di sosialisasikan kepada masyarakat dalam berbagai tingkatannya. Melalui pendidikan inilah, masyarakat Indonesia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan As-sunnah. Sehubungan dengan itu tingkat kedalaman pemahaman, penghayatan dan pengamalan masyarakat terhadap ajaran Islam amat tergantung pada tingkat kualitas pendidikan Islam yang di terimanya.
Suatu sistem pendidikan Islam mengandung berbagai komponen yang antara satu dan lainnya saling berkaitan. Komponen pendidikan tersebut meliputi landasan, tujuan, kurikulum, kompetensi dan profesionalisme guru, pola hubungan guru murid, metodelogi pembelajaran, sarana prasarana, evaluasi dan pembiayaan.
Berbagai komponen yang terdapat dalam pendidikan ini seringkali berjalan apa adanya, alami dan tradisional, karena dilakukan tanpa perencanaan konsep yang matang akibat keadaan yang demikian, maka menjadikan mutu pendidikan Islam kurang menggembirakan. Hal ini dikarenakan ketidak tersediaan tena ga pendidik Islam yang profesional, yaitu tena ga pendidik yang selain menguasai materi ilmu yang diajarkannya secara baik dan benar, juga harus mampu mengajarkannya secara efisien dan efektif kepada para siswa, serta harus pula memiliki idealisme. Permasalahan lain juga terdapat dalam metodologi pembelajaran yang cenderun tradisional, pembelajaran yang lebih mengarah pada peningkatan motivasi, kreativitas, imajinasi, inovasi dan etos keilmuan serta berkembangnya potensisi anak belum dapat dilaksanakan sebagaimana harapan. Dan metode pengajaran yang selama ini sering dilakukan cenderung pada metode ceramah yang bermodalkan pada papan dan kapur tulis semata. Telaah pemikiran filosof muslim Ibnu Sina, Ikhwan Al-Shafa, Ibnu Khaldun akan membantu dan mengembalikan pendidikan Islam ke posisi yang Idial. bersambung........
Label:
Filsafat,
HUMANIORA,
PEMIKIRAN KRITIS,
PENDIDIKAN
16:31
Telaah Konsep Pemikiran Ibnu Khaldun Tentang Pendidikan
Pandangan Khaldun tentang penduidikan Islam berpijak pada konsep dan pendekatan filosofis empiris. Melelui pendekatan ini, memberikan arah terhadap visi tujuan pendidikan Islam secara ideal atau praktis. Meski ia tidak mengkhususkan sebuah bab atau pembahasan mengenai tujuan pendidikan, namun dari uraiannya dapat memeberikan kesimpulan terhadap arah dan tujuan pendidikan yang diinginkannya. Menurutnya paling tidak ada 3 (tiga) tingkatanan tujuan pyang hendak dicapain dalam proses pendidikan, yaitu :
1. Pengembangan kemahiran (al-malakah atau sekill) dalam bidang tertentu. Orang awam bisa memililki pemahaman yang sama tentang suatu persoalan dengan seorang ilmuwan. Akan tetapi, potensi al-malakah tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-baner memahami dan mendalami satu disiplin tertentu. Dalam hal ini, para pakar (ilmuwan khususnya) yang memiliki al-malakah secara sempurna. Sementara untuk sampai pada tahap ini, diperlukan pendidikan yang sistematis dan mendalam.
2. Penguasaan ketrampilan professional sesuai dengan tuntutan zaman ( link and match). Dalam hal ini, pendidikan hendaknya ditunjukkan untuk memperoleh ketrampilan yang tinggi dari profesi tertentu. Pendekatan ini akan menunjang kemajuan dan kontinuitas sebuah kebudayaan, serta peradaban umat manusia dimuka bumi. Pendidikan yang meletakkan ketrampilan sebagai salah satu tujuannya yang hendak dicapai, dapat diartikan sebagai upaya mepertahankan dan memajukan peradaban secara keseluruhan.
3. Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berfikir merupakan garis pembeda antara manusia dengan binatang. Oleh karena itu pendidikan hendaknya diformat dan dilaksanakan denmgan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi psikologis peserta didik melalui pengembangan akal, akan dapat membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial dengan kehidupannya guna mewujudkan kesejahteraan hidupnya didunia dan diakhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka keberadaan pendidikan merupakan bagian integral dari konstruksi sebuah peradaban. proses ini merupakan upaya mulia karena berhubungan dengan penyebaran ilmu pengetahuan. Upaya tersebut merupakan salah satu tugas manusia sebagai kalifah fi al-ardh.
Seorang pendidik hendaknya memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan psikologi peserta didik, pengetahuan ini akan sangat membantu umtuk mengenal setiap individu peserta didik dalam mempermudah dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Para pendidik hendaknya mengetahui kemampuanan daya serap peserta didik.
Kemampuan ini akan bermanfaat bagi penetapan materi pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Bila pendidik memaksakan materi di luar kemampuan peserta didiknya, maka akan menyebabkan kelesuan mental dan bahkan kebencian terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan. Bila ini terjadi, maka akan menghambat proses pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara materi pelajaran yang sulit dan mudah dalam cakupan materi pendidikan
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik hendaknya mampu menggunakan metode mengajar yang efektif dan efisien. Dalam hal ini Ibnu khaldun mengemukakan 6 (enam) prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu :
1. Prinsip pembiasaan.
2. Prinsip tadrij (berangsur-angsur)
3. Prinsip pengenalan umum (generalistik)
4. Prinsip kontinuitas
5. Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik
6. Menghindari kekerasan dalam mengajar.
Sementara pemikiran Khaldun tentang kurikulum pendidikan dapat dilihat dari konsep epistimologinya. Menurutnya, ilmu pengetahuan dalam kebudayaan umat Islam dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu; ilmu pengetahuan syari’iyyah dan lmu pengetahuan filosofis. Ilmu pengetahauan asyar’iyyah berkenaan dengan hukum dan ajaran-ajaran Islam. Ilmu ini diantarannya adalah tentang al-quran, hadis , prinsip-prinsip syariah, fiqih, teologi, dan sufisme. Sementara itu ilmu pengetahuan filosofis meliputi; logika, ilmu pengetahuan alam (Fisika), metafisika, dan matematika. Ilmu pengetahuan filosofis juga sering disebut sains ilmiah. Hal ini dibabkan karena dengan potensi akalnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk menguasainya dengan baik.
Ilmu pengetahuan syari’iyyah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta didik) dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkannya . Konsep ini kemudian merupakan pilar dalam merekonstruksi kurikulum pendidikan Islam yang ideal. Yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik yang memmiliki kemampuan membentuk dan membangun peradaban umat manusia.
Pustaka
Arifin, M. 1993. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
Nata, Abuddin. 2001. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Nata, Abuddin. 2007. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama
___________. 2004. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
___________.2003. Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa.
Ramayulis. 2005. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Tafsir, Ahmad. 1991. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarrya.
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir , 2006Ilmu Pendidikan Islam , Jakarta : Kencana.
Karim Muhammad, 2009. Pendidikan Kritis Transformatif, Yogyakarta : Ar-ruzz media.
Suhartono Suparlan. 2006, Filsafat pendidikan, Yogyakarta : Ar-ruzz media.
Rahman, munawar Budhy. 2006, membaca Nurcholis Madjid,Jakarta:LSAF .
*By Arief Sugianto Mahasiswa Tarbiyah FAI UMM
1. Pengembangan kemahiran (al-malakah atau sekill) dalam bidang tertentu. Orang awam bisa memililki pemahaman yang sama tentang suatu persoalan dengan seorang ilmuwan. Akan tetapi, potensi al-malakah tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-baner memahami dan mendalami satu disiplin tertentu. Dalam hal ini, para pakar (ilmuwan khususnya) yang memiliki al-malakah secara sempurna. Sementara untuk sampai pada tahap ini, diperlukan pendidikan yang sistematis dan mendalam.
2. Penguasaan ketrampilan professional sesuai dengan tuntutan zaman ( link and match). Dalam hal ini, pendidikan hendaknya ditunjukkan untuk memperoleh ketrampilan yang tinggi dari profesi tertentu. Pendekatan ini akan menunjang kemajuan dan kontinuitas sebuah kebudayaan, serta peradaban umat manusia dimuka bumi. Pendidikan yang meletakkan ketrampilan sebagai salah satu tujuannya yang hendak dicapai, dapat diartikan sebagai upaya mepertahankan dan memajukan peradaban secara keseluruhan.
3. Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berfikir merupakan garis pembeda antara manusia dengan binatang. Oleh karena itu pendidikan hendaknya diformat dan dilaksanakan denmgan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi psikologis peserta didik melalui pengembangan akal, akan dapat membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial dengan kehidupannya guna mewujudkan kesejahteraan hidupnya didunia dan diakhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka keberadaan pendidikan merupakan bagian integral dari konstruksi sebuah peradaban. proses ini merupakan upaya mulia karena berhubungan dengan penyebaran ilmu pengetahuan. Upaya tersebut merupakan salah satu tugas manusia sebagai kalifah fi al-ardh.
Seorang pendidik hendaknya memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan psikologi peserta didik, pengetahuan ini akan sangat membantu umtuk mengenal setiap individu peserta didik dalam mempermudah dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Para pendidik hendaknya mengetahui kemampuanan daya serap peserta didik.
Kemampuan ini akan bermanfaat bagi penetapan materi pendidikan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Bila pendidik memaksakan materi di luar kemampuan peserta didiknya, maka akan menyebabkan kelesuan mental dan bahkan kebencian terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan. Bila ini terjadi, maka akan menghambat proses pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara materi pelajaran yang sulit dan mudah dalam cakupan materi pendidikan
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik hendaknya mampu menggunakan metode mengajar yang efektif dan efisien. Dalam hal ini Ibnu khaldun mengemukakan 6 (enam) prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu :
1. Prinsip pembiasaan.
2. Prinsip tadrij (berangsur-angsur)
3. Prinsip pengenalan umum (generalistik)
4. Prinsip kontinuitas
5. Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik
6. Menghindari kekerasan dalam mengajar.
Sementara pemikiran Khaldun tentang kurikulum pendidikan dapat dilihat dari konsep epistimologinya. Menurutnya, ilmu pengetahuan dalam kebudayaan umat Islam dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu; ilmu pengetahuan syari’iyyah dan lmu pengetahuan filosofis. Ilmu pengetahauan asyar’iyyah berkenaan dengan hukum dan ajaran-ajaran Islam. Ilmu ini diantarannya adalah tentang al-quran, hadis , prinsip-prinsip syariah, fiqih, teologi, dan sufisme. Sementara itu ilmu pengetahuan filosofis meliputi; logika, ilmu pengetahuan alam (Fisika), metafisika, dan matematika. Ilmu pengetahuan filosofis juga sering disebut sains ilmiah. Hal ini dibabkan karena dengan potensi akalnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk menguasainya dengan baik.
Ilmu pengetahuan syari’iyyah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta didik) dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkannya . Konsep ini kemudian merupakan pilar dalam merekonstruksi kurikulum pendidikan Islam yang ideal. Yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik yang memmiliki kemampuan membentuk dan membangun peradaban umat manusia.
Pustaka
Arifin, M. 1993. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
Nata, Abuddin. 2001. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Nata, Abuddin. 2007. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama
___________. 2004. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
___________.2003. Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa.
Ramayulis. 2005. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Tafsir, Ahmad. 1991. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarrya.
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir , 2006Ilmu Pendidikan Islam , Jakarta : Kencana.
Karim Muhammad, 2009. Pendidikan Kritis Transformatif, Yogyakarta : Ar-ruzz media.
Suhartono Suparlan. 2006, Filsafat pendidikan, Yogyakarta : Ar-ruzz media.
Rahman, munawar Budhy. 2006, membaca Nurcholis Madjid,Jakarta:LSAF .
*By Arief Sugianto Mahasiswa Tarbiyah FAI UMM
Label:
Filsafat
16:28
Concept Review Ikhwan Al Safa Educational Thought*
Ikhwanus Safa (the sacred brotherhood) is the name pinned on a group of liberal-minded thinkers who explore and develop its activities in science and philosophy with the aim not merely for the sake of science itself, but to meet the expectations of others, such as the formation of community-ethics religious and uniting various circles in a container that is always ready to fight for their aspirations. Ethical-spiritual community is an assimilation of various Muslim circles of heterogeneous, the heterogeneity that characterizes this group, they reflect the pluralistic characteristics, since members of the elements of the cross-sects or schools.
Muslim thinkers engaged in secret, was born in the 4th century (10M) in Basrah. Confidentiality of this group who also called himself Khulan group Al-Wafa ', Ahl al-ADL, and Abna' Al Hamd1, perhaps because of political tendencies, and only revealed after a powerful dynasty in Baghdad in the year Buwaihi 983M.
C.1 Educational Thought Ikhwan al-Safa
Educational thinking Ikhwan al-Safa which covers several aspects: the purpose of education, educators, environmental education, curriculum, axiology, and methods of education.
a. Axiology
Ikhwan al-Safa explained that the good and bad can be explained by reason, because ukuranya very rational. Moral principles as the basis for assessing whether a person's behavior is good or bad is definitely a category that yidak can be reduced or lowered. According to him, the good is automatically have implications for the acquisition of reward, and good deeds that arise from within rather than because they expect something coming from outside.
With the foundation, the Ikhwan al-Safa explained that some individual ability is innate and partly the other is the result of human effort. After birth, someone begins to understand what is good and what is bad through the effort of thinking. Thus the process will continue until the end of life. Action is to be quite good if done properly (true and correct kaitanya with time and place). Thus it can be said that the axiology described by the Ikhwan Al-Safa is in a group of concentration, namely ethics
b. Epistimologi
Epistemology of the Ikhwan al-Safa using rational methods. Rational method is the method used to acquire knowledge by using the considerations of truth or the criteria for an acceptable ratio. According to this method is considered correct if something can be accepted by the mind like ten more than five. No one is able to reject the truth of this example based on the use of his senses, because it is rationally ten more than the five is an irrefutable statement.
In science theory Ikhwan al-Safa has a different opinion of Plato who declared that the soul of "re-learn by remembering what they have gained while in the natural idea, before the down to earth. In the wild ideas, the soul knows many things. At the time of the soul moving from the idea that the character of a spiritual nature to the material nature, he forgot the first dimillikinya knowledge. Therefore, everything he had learned (in the material nature), actually just be reminded once again that the knowledge possessed (in the nature of ideas).
In contrast to Plato's theory of knowledge, the Ikhwan al-Safa assumes all knowledge can be acquired in three ways, among others, stems from the absorption inderawiah. "Because everything that is not accessible by the senses tida can imagine, and something that can not be in imagine, then no could "dirasiokan". Thus, the early rational insights, originated from the absorption inderawiah. The proof, intelligent people who have different levels of rational knowledge. This is caused by the difference in quality inderawiah, the pattern of their interaction with other environments.
Acquisition of knowledge by faculty, this is the way
The most natural and normal. However, with our senses can only get (knowledge about) the changes are easily captured by the senses
us and we know it is only the changes that occur in
space and time
The second is, by reason or by thinking pure excellence. However, the thought was, if not aided by the senses, will not acquire knowledge. After all, these concepts are not related to our senses, such as the concept of god and the first material, will not be known only by thinking alone without the help of the senses. Another way kaitanya closely with both the way the above is by way of proof, and here performed by experts dialectic really good.
The third through the initiation (ordination) and is most closely kaitanya
with the esoteric doctrine of the Ikhwan al-Safa. In this way a person get
direct knowledge of teachers, namely teachers in understanding and deep seluasluasnya. This teacher gets his knowledge of the imam (religious leader) and imam get it from other priests, and priests get dar prophet and the prophet of Allah, the most recent source of knowledge.
c. Destination Education Perspective Ikhwan al-Safa
According to the Ikhwan al-Safa 'knowledge of science is a picture of someone who knows the soul. Learning is the potential to be an actual issue, the main purpose of education is the goal moral8. While the function of education to help the uneducated to realize self-development efforts Totalita education is a moral activity that is to be morally good, positive habits, and actions of a person become straight; want to convey the message to the person who is entitled, intelligent self-control, respect the rights of others, being either against your neighbors, be sincere to others, full of love and affection, not greedy, do not like complaining, being empathetic and selfless in doing good, because if have strings attached to the back, or have a thankless unt uk at flattered, it's no longer good value , but rather to nifaq's and not proper for such people are in line ruhania noble creatures.
While the ultimate goal of education is to increase the level of human dignity of the holy angels, in order to achieve this could be realized Allah.hal pleased with one's commitment to moral behavior, so she was able to achieve the dignity of humanity is approaching levels close to haribaan angels and God. He will earn rewards that can not be described rewarded with words, as described God's "human soul I do not know what to hide their true form of pleasure, in return for what they have done."
Ikhwan al-Safa also believes that educational activities starting before kalahiran. Therefore, the condition of the baby and the development has been influenced by the state of health of the mother's pregnancy and pregnant ng yes. Thus, attention must be given education since the time of the fetus in the womb of things that are meant to provide a positive influence on growth and intellectual development and mental health of the fetus.
d. Educators and learners Ikhwan al-Safa Perspective
Ikhwan al-Safa puts educators (teachers) in a strategic position and the core of educational activities. They require intelligence, maturity, moral honesty, sincerity, kejernian thought, the ethos of science and not blind fanatics on the educators themselves. The Brethren believe that educating the same by making the "father" of the two, because the educator or teacher is the father, guardian of your soul's growth and development, as well as both parents are forming a physical-biological way, then the teacher is the spiritual formation of mental visual. Because teachers have been feeding the soul with a variety of knowledge and guide on road safety and permanency, such as what has been done by parents who cause the body one is born into the world, nurture and teach for a living to live in this world, no blind fanatic on educators themselves.
The Brethren believe that educating the same by making the "father" of the two, because the educator or teacher is the father, guardian of your soul's growth and development, as well as both parents are forming a physical-biological way, then the teacher is the spiritual formation of mental visual. Because teachers have been feeding the soul with a variety of knowledge and guide on road safety and permanency, such as what has been done by parents who cause the body one is born into the world, nurture and teach for a living to live in this world.
As for the students Ikhwan al-Safa believes that every
children born with aptitudesnya, meaning that with the potential to be in actualizing. With reason and emotion, the child will be able to start developing intellect in habt dar stage, and then intelect in actu, and finally to the acquaired intelect.
Thus the position of departing from the well-educated children will be increased to educators for himself, where the shape is very varied ranging from a self-taught learning disabled or able to make decisions without being influenced by others. Ikhwan al-Safa thinking that students tend to imitate the educators seemed to conflict with pemikiranya that education leads to kemandiria and behavior and tawhid.
e. Environmental Education Perspective Ikhwan al-Safa
According to Ikhwan environment is very influential in the formation of moral and educational one, in a brotherly rasa'il al sapha explained that there are two that affect the person's moral formation is through innate and environmental influences.
Brethren strongly recommend that a child grows in an environment conducive to education, because the soul like the baby before any fill a clean white paper does not exist any posts have been filled when the soul of a knowledge or belief, whether true or false, then some of them have tertulisi and difficult to be abolished so that, among the Brethren demanding parents, caregivers and educators to understand the nature of child development and sensory-stage stage
f. Curriculum Perspectives Ikhwan al-Safa
Ikhwan al-Safa is a sacred brotherhood devoted
on improving education in the Islamic world, which developed the program as a whole in a series pendidikanya Minutes. They explore
zamanya science and wrote a treatise on trying to link the curriculum with the philosophical sciences in schools of Islam, and indeed this organization group mempunnyai popular ideology in education in batasbatas teertentu accordance with the principles of modern education.
They bring to the creation of basic theories in education \ teaching, and among their theories is the necessity of teaching children at start of observation through the senses before a rational thought. Therefore they view the observation as a tool to study sensory bahanbahan rational knowledge which should be linked to the science of divinity
(Theology).
Ikhwan al-Safa more attention to the curriculum at the high madrasa,
in a series of minutes of the Ikhwan al-Safa, encyclopaedic approach through education, which originated from Basra to the tenth century AD, appears in the form of a compilation, mostly used in the world of Islamic education. The topics covered in the free teaching are:
General disciplines: literacy, the meaning of words and grammar, arithmetic, literature (poetry and poetry), the science of signs and signals, the science of magic, chemistry, commerce, and skilled hands, buying and selling, commercial, agricultural and animal husbandry , and nd biographical stories.
1. Religious sciences: the science of al-Quran, Tafseer, Hadith, Fiqh, dhikr, ascetic, Sufism, and syahadah.
2. Philosophical sciences: mathematics, logic, science, arithmetic, geometry, astronomy, music, arithmetic, geometry law, natural science, anthropology, substance, form, space, elements, cosmology movement, production, smelting, meteorology, natural essence and its manifestations, botany, zoology, anatomy and anthropology, embryology of sensory perception, the human as a microcosm; development of the soul (evolutionary psychology): body and soul; different languages (pilologi), psychology (pemeheman duni psychiatric and so forth), theology; esoteric doctrine of Islam, arrangement of a spiritual nature, as well as natural science magic.
According to the Brotherhood, during the first four years in the life of a student acquiring knowledge through the senses (khawas) and instinct (garaizah). Conventional education begins in elementary school maktab or under the guidance of teachers (mu'alim). Education teenagers get major attention in the conception of the Ikhwan al-Safa. Therefore, teenagers should be educated at a higher level by a teacher who was on call the teacher at the institution called the Assembly. The subjects taught are ilm, (in the context of philosophy or science).
* By arief sugianto students tarbiyah FAI UMM
Muslim thinkers engaged in secret, was born in the 4th century (10M) in Basrah. Confidentiality of this group who also called himself Khulan group Al-Wafa ', Ahl al-ADL, and Abna' Al Hamd1, perhaps because of political tendencies, and only revealed after a powerful dynasty in Baghdad in the year Buwaihi 983M.
C.1 Educational Thought Ikhwan al-Safa
Educational thinking Ikhwan al-Safa which covers several aspects: the purpose of education, educators, environmental education, curriculum, axiology, and methods of education.
a. Axiology
Ikhwan al-Safa explained that the good and bad can be explained by reason, because ukuranya very rational. Moral principles as the basis for assessing whether a person's behavior is good or bad is definitely a category that yidak can be reduced or lowered. According to him, the good is automatically have implications for the acquisition of reward, and good deeds that arise from within rather than because they expect something coming from outside.
With the foundation, the Ikhwan al-Safa explained that some individual ability is innate and partly the other is the result of human effort. After birth, someone begins to understand what is good and what is bad through the effort of thinking. Thus the process will continue until the end of life. Action is to be quite good if done properly (true and correct kaitanya with time and place). Thus it can be said that the axiology described by the Ikhwan Al-Safa is in a group of concentration, namely ethics
b. Epistimologi
Epistemology of the Ikhwan al-Safa using rational methods. Rational method is the method used to acquire knowledge by using the considerations of truth or the criteria for an acceptable ratio. According to this method is considered correct if something can be accepted by the mind like ten more than five. No one is able to reject the truth of this example based on the use of his senses, because it is rationally ten more than the five is an irrefutable statement.
In science theory Ikhwan al-Safa has a different opinion of Plato who declared that the soul of "re-learn by remembering what they have gained while in the natural idea, before the down to earth. In the wild ideas, the soul knows many things. At the time of the soul moving from the idea that the character of a spiritual nature to the material nature, he forgot the first dimillikinya knowledge. Therefore, everything he had learned (in the material nature), actually just be reminded once again that the knowledge possessed (in the nature of ideas).
In contrast to Plato's theory of knowledge, the Ikhwan al-Safa assumes all knowledge can be acquired in three ways, among others, stems from the absorption inderawiah. "Because everything that is not accessible by the senses tida can imagine, and something that can not be in imagine, then no could "dirasiokan". Thus, the early rational insights, originated from the absorption inderawiah. The proof, intelligent people who have different levels of rational knowledge. This is caused by the difference in quality inderawiah, the pattern of their interaction with other environments.
Acquisition of knowledge by faculty, this is the way
The most natural and normal. However, with our senses can only get (knowledge about) the changes are easily captured by the senses
us and we know it is only the changes that occur in
space and time
The second is, by reason or by thinking pure excellence. However, the thought was, if not aided by the senses, will not acquire knowledge. After all, these concepts are not related to our senses, such as the concept of god and the first material, will not be known only by thinking alone without the help of the senses. Another way kaitanya closely with both the way the above is by way of proof, and here performed by experts dialectic really good.
The third through the initiation (ordination) and is most closely kaitanya
with the esoteric doctrine of the Ikhwan al-Safa. In this way a person get
direct knowledge of teachers, namely teachers in understanding and deep seluasluasnya. This teacher gets his knowledge of the imam (religious leader) and imam get it from other priests, and priests get dar prophet and the prophet of Allah, the most recent source of knowledge.
c. Destination Education Perspective Ikhwan al-Safa
According to the Ikhwan al-Safa 'knowledge of science is a picture of someone who knows the soul. Learning is the potential to be an actual issue, the main purpose of education is the goal moral8. While the function of education to help the uneducated to realize self-development efforts Totalita education is a moral activity that is to be morally good, positive habits, and actions of a person become straight; want to convey the message to the person who is entitled, intelligent self-control, respect the rights of others, being either against your neighbors, be sincere to others, full of love and affection, not greedy, do not like complaining, being empathetic and selfless in doing good, because if have strings attached to the back, or have a thankless unt uk at flattered, it's no longer good value , but rather to nifaq's and not proper for such people are in line ruhania noble creatures.
While the ultimate goal of education is to increase the level of human dignity of the holy angels, in order to achieve this could be realized Allah.hal pleased with one's commitment to moral behavior, so she was able to achieve the dignity of humanity is approaching levels close to haribaan angels and God. He will earn rewards that can not be described rewarded with words, as described God's "human soul I do not know what to hide their true form of pleasure, in return for what they have done."
Ikhwan al-Safa also believes that educational activities starting before kalahiran. Therefore, the condition of the baby and the development has been influenced by the state of health of the mother's pregnancy and pregnant ng yes. Thus, attention must be given education since the time of the fetus in the womb of things that are meant to provide a positive influence on growth and intellectual development and mental health of the fetus.
d. Educators and learners Ikhwan al-Safa Perspective
Ikhwan al-Safa puts educators (teachers) in a strategic position and the core of educational activities. They require intelligence, maturity, moral honesty, sincerity, kejernian thought, the ethos of science and not blind fanatics on the educators themselves. The Brethren believe that educating the same by making the "father" of the two, because the educator or teacher is the father, guardian of your soul's growth and development, as well as both parents are forming a physical-biological way, then the teacher is the spiritual formation of mental visual. Because teachers have been feeding the soul with a variety of knowledge and guide on road safety and permanency, such as what has been done by parents who cause the body one is born into the world, nurture and teach for a living to live in this world, no blind fanatic on educators themselves.
The Brethren believe that educating the same by making the "father" of the two, because the educator or teacher is the father, guardian of your soul's growth and development, as well as both parents are forming a physical-biological way, then the teacher is the spiritual formation of mental visual. Because teachers have been feeding the soul with a variety of knowledge and guide on road safety and permanency, such as what has been done by parents who cause the body one is born into the world, nurture and teach for a living to live in this world.
As for the students Ikhwan al-Safa believes that every
children born with aptitudesnya, meaning that with the potential to be in actualizing. With reason and emotion, the child will be able to start developing intellect in habt dar stage, and then intelect in actu, and finally to the acquaired intelect.
Thus the position of departing from the well-educated children will be increased to educators for himself, where the shape is very varied ranging from a self-taught learning disabled or able to make decisions without being influenced by others. Ikhwan al-Safa thinking that students tend to imitate the educators seemed to conflict with pemikiranya that education leads to kemandiria and behavior and tawhid.
e. Environmental Education Perspective Ikhwan al-Safa
According to Ikhwan environment is very influential in the formation of moral and educational one, in a brotherly rasa'il al sapha explained that there are two that affect the person's moral formation is through innate and environmental influences.
Brethren strongly recommend that a child grows in an environment conducive to education, because the soul like the baby before any fill a clean white paper does not exist any posts have been filled when the soul of a knowledge or belief, whether true or false, then some of them have tertulisi and difficult to be abolished so that, among the Brethren demanding parents, caregivers and educators to understand the nature of child development and sensory-stage stage
f. Curriculum Perspectives Ikhwan al-Safa
Ikhwan al-Safa is a sacred brotherhood devoted
on improving education in the Islamic world, which developed the program as a whole in a series pendidikanya Minutes. They explore
zamanya science and wrote a treatise on trying to link the curriculum with the philosophical sciences in schools of Islam, and indeed this organization group mempunnyai popular ideology in education in batasbatas teertentu accordance with the principles of modern education.
They bring to the creation of basic theories in education \ teaching, and among their theories is the necessity of teaching children at start of observation through the senses before a rational thought. Therefore they view the observation as a tool to study sensory bahanbahan rational knowledge which should be linked to the science of divinity
(Theology).
Ikhwan al-Safa more attention to the curriculum at the high madrasa,
in a series of minutes of the Ikhwan al-Safa, encyclopaedic approach through education, which originated from Basra to the tenth century AD, appears in the form of a compilation, mostly used in the world of Islamic education. The topics covered in the free teaching are:
General disciplines: literacy, the meaning of words and grammar, arithmetic, literature (poetry and poetry), the science of signs and signals, the science of magic, chemistry, commerce, and skilled hands, buying and selling, commercial, agricultural and animal husbandry , and nd biographical stories.
1. Religious sciences: the science of al-Quran, Tafseer, Hadith, Fiqh, dhikr, ascetic, Sufism, and syahadah.
2. Philosophical sciences: mathematics, logic, science, arithmetic, geometry, astronomy, music, arithmetic, geometry law, natural science, anthropology, substance, form, space, elements, cosmology movement, production, smelting, meteorology, natural essence and its manifestations, botany, zoology, anatomy and anthropology, embryology of sensory perception, the human as a microcosm; development of the soul (evolutionary psychology): body and soul; different languages (pilologi), psychology (pemeheman duni psychiatric and so forth), theology; esoteric doctrine of Islam, arrangement of a spiritual nature, as well as natural science magic.
According to the Brotherhood, during the first four years in the life of a student acquiring knowledge through the senses (khawas) and instinct (garaizah). Conventional education begins in elementary school maktab or under the guidance of teachers (mu'alim). Education teenagers get major attention in the conception of the Ikhwan al-Safa. Therefore, teenagers should be educated at a higher level by a teacher who was on call the teacher at the institution called the Assembly. The subjects taught are ilm, (in the context of philosophy or science).
* By arief sugianto students tarbiyah FAI UMM
Label:
Filsafat,
PENDIDIKAN
16:15
Reason Reconstruction of Islamic Education*
(Review of Islamic educational thinker Ibn Sina Ikhwan al-Safa, and Ibn Khaldun)
Abstract:
Today life is dealing with politics, culture and civilizations of other nations who dominate it so strong that it was something unusual imbalance occurs. Our enemy today is not the devil or demons concrete,, Äúmusuh, AU we are modernism, globalization with rasonalisme reason, empiricism, positivism, and scientism have been included in the recesses of life. Education (Islamic education) as the backbone of civilization proved incapable, Äúmelawan, AU. Review of Islamic educational thought of Ibn Sina, Ikhwan al-Safa, and Ibn Khaldun is currently very relevant, to the renewal epistimologi, axiology, and the Ontology of rational criticism phantaisme advokativ, manajemannya (from subject-to participatory onbjek intersubjective), school relationships and society (from individualist to pathernersip), curriculum (from the vertical emphasis to senergi vertical-horizontal), the learning patterns (of intimidating to be participatory and creative), learning goals (becoming more independent, autonomous, critical, and socially sensitive), learning content (more communicative), the method of study (from dogmatic become dialogic intersubjective), learning approaches (from the dogmatic become andargogis dialogical pedagogical), the management is more appropriate learning media, and if his social life with justice. So this paper may be used as a vehicle for constructive in relation to the renewal and future development of Islamic education.
Keywords: Rasonalisme, empiricism, positivism, scientism, Epistimologi, Axiology, ontology, curriculum, methods
A. Preliminary
Education is essential for humans. Humans can deal with the universe to sustain life through education in order to survive. Because of the importance of education, Islam places on education is important and high position in doktrinya.
Entering the XXI century or the third millennium in the world of education in confronting the complicated issues which if not addressed appropriately it is possible that the education world will be left behind by the times. Awareness of the emergence of education in resolving and responding to new challenges, which arise at each age is a matter of logic, even a compulsion such things understandable, considering that education is one of the institutions directly involved in preparing for the future of mankind. The failure of education in preparing future of mankind is a failure for the survival of the nation's life.
Growth and development of Islamic education in Indonesia is closely related to missionary activity Islamiah, the Islamic educational role as a mediator in which the teachings of Islam can be socialized to the community in a variety of levels. Through this education, the Indonesian people can understand, appreciate and practice the Islamic teachings in accordance with the provisions of the Al-Qur'an, Äôan and As-Sunnah. In connection with that level of depth of understanding, appreciation and practice of the community against the teachings of Islam is very dependent on the level of quality of Islamic education in the receipt.
An Islamic educational systems contain many components that between one and other related. Educational components include the foundation, objectives, curriculum, competence and professionalism of teachers, the pattern of student teacher relationships, teaching methodology, infrastructure, evaluation and financing.
Various components contained in this education is often run as it is, natural and traditional, because it is done without careful planning concepts due to such circumstances, it makes the quality of Islamic education is less encouraging. This is because the outage tena ga Islamic educators who are professional, that is tena ga educators who besides mastering the science content taught well and properly, should also be able to teach efficiently and effectively to the students, and must also have the idealism. Other problems are also inherent in traditional methodologies cenderun learning, learning is more directed at improving motivation, creativity, imagination, innovation and scientific ethos and the development potensisi child can not be executed as of hope. And teaching methods that have been frequently performed on lecture methods which tend to capitalize on the boards and chalk alone. Review thinking Muslim philosophers Ibn Sina Ikhwan al-Safa, Ibn Khaldun would help and return to the position of Islamic education Idial.
B. Concept Review Avicenna Thought About Education
B.1 Concept background Avicenna Thought About Education
The full name is Abu Ali Ibn Sina Ibn Abdullah Ibn Husien Hasan Ibn Ali Ibn Sina. Ibn Sina was born in the village of Akhsyanah, near Bukhara in the year 370 H / 980M.2 scholars disagree about his birth year. And Ibn al-Qibthi Khalkan said the birth of Ibn Sina in the year 370/980. Ibn Abi Ushaibiah said in 375/985. while some say his birth in the year 373/983, and according to Muhammad in the year 363/973.3 Ustman Nafati The other opinion says that Ibn Sina was born in Persia in the month of Safar in 980 AD, his father lived in the city Baikh is a city located between Georgia and Turkestan.
In the history of Muslim thought, Ibn Sina, known as a Muslim intellectual who earned a lot. Ibn Sina, in addition to appearing as a famous scientist who is supported by his birthplace as a cultural capital and their parents are known as high officials, as well as exceptional intelligence. According to historical records of Ibn Sina began his education at the age of five years in his hometown of Bukhara.
Ibn Sina's Thought a lot to do with education concerning the goods times his thoughts on philosophy of science. According to Ibn Sina science is divided into two, namely that science is not immutable and eternal knowledge (wisdom). Science eternal viewed from its role as a tool can be called logic. But based on the destination, the science of science which can be divided into practical and theoretical. Kealaman theoretical science as science, mathematics, science, divinity and science Kulli. While science is the science of practical morality, science, home management, management science and the science city of the prophet (sharia).
According to Hasan Ibn Sina Langgulung educational thinking in practical philosophy (practical science) contains about the science of morals, science of household affairs, politics and the sharia. These works are principally related to how to organize and guide human beings in various stages and systems. The discussion begins with the individual education. That is how one controls oneself (morals). Then proceed with the guidance to the family (takbiral-Manzil), and then spread to the community (al-Madinat tadbir) and eventually to all mankind
So according to Ibn Sina, the education given by the prophets is essentially a humanitarian education. Here can be seen that the thought of Ibn Sina's education is comprehensive. Meanwhile, the views of Ibn Sina in the field of politics nearly inseparable from his view in the field of religion, because he thought almost all branches of Islamic sciences in touch with politics, science, he is then divided into four branches of moral science, the science of how to manage the household, state of good science and the science of prophetic. Into political science was also included science. Science. Education, because education is a science that science is at the forefront in preparing cadres who lost to carry out the tasks of government.
In educational thought, Ibn Sina has also elaborate on the psychology of education. This can be seen from the description of the relationship with the level of education for children age, child's willingness and talent to know the background level of development, talent and willingness of children, then the guidance given to children will be more successful. According to Ibn Sina human tendency to choose a different job because of the nature of human beings there are hidden factors that elusive and difficult to understand and measure its purity. With the view of Ibn Sina is seen that in mind he has pioneered studies of individual differences (Individual Differences), known as the modern educational world today.
In formulating the concept of education, Ibn Sina great emphasis on moral education. Because at that time the political atmosphere and social conditions in its mass, it is very messy. When it was slander continues raging political turmoil and opposition currents swept the middle schools of the Muslims. Such conditions indicate that how bobroknya morals of the Muslims. Whereas if the morals of a nation has been damaged, then the nation would have been destroyed as well. Such social conditions, either directly or indirectly has influenced educational thinking.
Furthermore, Ibn Sina divided educational level into two parts which are:
1. General level. Uni-level children can learn to be trained to prepare the physical body, mind and soul at this level children are given lessons in reading, writing, Al Qur, Äôan, important issues in the religious foundations of language and a bit of literature.
2. Particular level, at this level the child is prepared to go to a profession which they are trained to conduct practices relating to the problems of life. Because if it only has my curiosity just is not enough but must be practiced continuously. Here Ibn Sina would lead to the professions and talents in accordance with their capabilities and fit with the inclinations of students
Literature
Arifin, M. 1993. Philosophy of Islamic Education, London: Earth Literacy.
Nata, Abuddin. 2001. Thought of the People of the Islamic Educational, Jakarta: PT. King Grafindo Persada.
Nata, Abuddin. 2007. Philosophy of Islamic Education, Sydney: Hollywood Media Pratama
___________. 2004. History of Islamic Education, Jakarta: PT. King Grafindo Persada.
___________.2003. Educational Thought of Islam, Bandung: Angkasa.
Ramayulis. 2005. Islamic Educational Studies, Jakarta: The Word of Honor.
Tafseer Ahmad. 1991. Science Education in Islamic Perspective, Canberra: Teenagers Rosdakarrya.
Abdul Mujib and Joseph Mudzakkir, 2006Ilmu Islamic Education, Jakarta: Kencana.
Karim Mohammed, 2009. Critical Transformative Education, Yogyakarta: Ar-ruzz media.
Suhartono Suparlan. 2006, Philosophy of education, Yogyakarta: Ar-ruzz media.
Rahman, Munawar Budhy. 2006, read Nurcholis Madjid, Jakarta: LSAF.
*by arief Sugianto tarbiyah student Faculty of Islamic University of Malang
Abstract:
Today life is dealing with politics, culture and civilizations of other nations who dominate it so strong that it was something unusual imbalance occurs. Our enemy today is not the devil or demons concrete,, Äúmusuh, AU we are modernism, globalization with rasonalisme reason, empiricism, positivism, and scientism have been included in the recesses of life. Education (Islamic education) as the backbone of civilization proved incapable, Äúmelawan, AU. Review of Islamic educational thought of Ibn Sina, Ikhwan al-Safa, and Ibn Khaldun is currently very relevant, to the renewal epistimologi, axiology, and the Ontology of rational criticism phantaisme advokativ, manajemannya (from subject-to participatory onbjek intersubjective), school relationships and society (from individualist to pathernersip), curriculum (from the vertical emphasis to senergi vertical-horizontal), the learning patterns (of intimidating to be participatory and creative), learning goals (becoming more independent, autonomous, critical, and socially sensitive), learning content (more communicative), the method of study (from dogmatic become dialogic intersubjective), learning approaches (from the dogmatic become andargogis dialogical pedagogical), the management is more appropriate learning media, and if his social life with justice. So this paper may be used as a vehicle for constructive in relation to the renewal and future development of Islamic education.
Keywords: Rasonalisme, empiricism, positivism, scientism, Epistimologi, Axiology, ontology, curriculum, methods
A. Preliminary
Education is essential for humans. Humans can deal with the universe to sustain life through education in order to survive. Because of the importance of education, Islam places on education is important and high position in doktrinya.
Entering the XXI century or the third millennium in the world of education in confronting the complicated issues which if not addressed appropriately it is possible that the education world will be left behind by the times. Awareness of the emergence of education in resolving and responding to new challenges, which arise at each age is a matter of logic, even a compulsion such things understandable, considering that education is one of the institutions directly involved in preparing for the future of mankind. The failure of education in preparing future of mankind is a failure for the survival of the nation's life.
Growth and development of Islamic education in Indonesia is closely related to missionary activity Islamiah, the Islamic educational role as a mediator in which the teachings of Islam can be socialized to the community in a variety of levels. Through this education, the Indonesian people can understand, appreciate and practice the Islamic teachings in accordance with the provisions of the Al-Qur'an, Äôan and As-Sunnah. In connection with that level of depth of understanding, appreciation and practice of the community against the teachings of Islam is very dependent on the level of quality of Islamic education in the receipt.
An Islamic educational systems contain many components that between one and other related. Educational components include the foundation, objectives, curriculum, competence and professionalism of teachers, the pattern of student teacher relationships, teaching methodology, infrastructure, evaluation and financing.
Various components contained in this education is often run as it is, natural and traditional, because it is done without careful planning concepts due to such circumstances, it makes the quality of Islamic education is less encouraging. This is because the outage tena ga Islamic educators who are professional, that is tena ga educators who besides mastering the science content taught well and properly, should also be able to teach efficiently and effectively to the students, and must also have the idealism. Other problems are also inherent in traditional methodologies cenderun learning, learning is more directed at improving motivation, creativity, imagination, innovation and scientific ethos and the development potensisi child can not be executed as of hope. And teaching methods that have been frequently performed on lecture methods which tend to capitalize on the boards and chalk alone. Review thinking Muslim philosophers Ibn Sina Ikhwan al-Safa, Ibn Khaldun would help and return to the position of Islamic education Idial.
B. Concept Review Avicenna Thought About Education
B.1 Concept background Avicenna Thought About Education
The full name is Abu Ali Ibn Sina Ibn Abdullah Ibn Husien Hasan Ibn Ali Ibn Sina. Ibn Sina was born in the village of Akhsyanah, near Bukhara in the year 370 H / 980M.2 scholars disagree about his birth year. And Ibn al-Qibthi Khalkan said the birth of Ibn Sina in the year 370/980. Ibn Abi Ushaibiah said in 375/985. while some say his birth in the year 373/983, and according to Muhammad in the year 363/973.3 Ustman Nafati The other opinion says that Ibn Sina was born in Persia in the month of Safar in 980 AD, his father lived in the city Baikh is a city located between Georgia and Turkestan.
In the history of Muslim thought, Ibn Sina, known as a Muslim intellectual who earned a lot. Ibn Sina, in addition to appearing as a famous scientist who is supported by his birthplace as a cultural capital and their parents are known as high officials, as well as exceptional intelligence. According to historical records of Ibn Sina began his education at the age of five years in his hometown of Bukhara.
Ibn Sina's Thought a lot to do with education concerning the goods times his thoughts on philosophy of science. According to Ibn Sina science is divided into two, namely that science is not immutable and eternal knowledge (wisdom). Science eternal viewed from its role as a tool can be called logic. But based on the destination, the science of science which can be divided into practical and theoretical. Kealaman theoretical science as science, mathematics, science, divinity and science Kulli. While science is the science of practical morality, science, home management, management science and the science city of the prophet (sharia).
According to Hasan Ibn Sina Langgulung educational thinking in practical philosophy (practical science) contains about the science of morals, science of household affairs, politics and the sharia. These works are principally related to how to organize and guide human beings in various stages and systems. The discussion begins with the individual education. That is how one controls oneself (morals). Then proceed with the guidance to the family (takbiral-Manzil), and then spread to the community (al-Madinat tadbir) and eventually to all mankind
So according to Ibn Sina, the education given by the prophets is essentially a humanitarian education. Here can be seen that the thought of Ibn Sina's education is comprehensive. Meanwhile, the views of Ibn Sina in the field of politics nearly inseparable from his view in the field of religion, because he thought almost all branches of Islamic sciences in touch with politics, science, he is then divided into four branches of moral science, the science of how to manage the household, state of good science and the science of prophetic. Into political science was also included science. Science. Education, because education is a science that science is at the forefront in preparing cadres who lost to carry out the tasks of government.
In educational thought, Ibn Sina has also elaborate on the psychology of education. This can be seen from the description of the relationship with the level of education for children age, child's willingness and talent to know the background level of development, talent and willingness of children, then the guidance given to children will be more successful. According to Ibn Sina human tendency to choose a different job because of the nature of human beings there are hidden factors that elusive and difficult to understand and measure its purity. With the view of Ibn Sina is seen that in mind he has pioneered studies of individual differences (Individual Differences), known as the modern educational world today.
In formulating the concept of education, Ibn Sina great emphasis on moral education. Because at that time the political atmosphere and social conditions in its mass, it is very messy. When it was slander continues raging political turmoil and opposition currents swept the middle schools of the Muslims. Such conditions indicate that how bobroknya morals of the Muslims. Whereas if the morals of a nation has been damaged, then the nation would have been destroyed as well. Such social conditions, either directly or indirectly has influenced educational thinking.
Furthermore, Ibn Sina divided educational level into two parts which are:
1. General level. Uni-level children can learn to be trained to prepare the physical body, mind and soul at this level children are given lessons in reading, writing, Al Qur, Äôan, important issues in the religious foundations of language and a bit of literature.
2. Particular level, at this level the child is prepared to go to a profession which they are trained to conduct practices relating to the problems of life. Because if it only has my curiosity just is not enough but must be practiced continuously. Here Ibn Sina would lead to the professions and talents in accordance with their capabilities and fit with the inclinations of students
Literature
Arifin, M. 1993. Philosophy of Islamic Education, London: Earth Literacy.
Nata, Abuddin. 2001. Thought of the People of the Islamic Educational, Jakarta: PT. King Grafindo Persada.
Nata, Abuddin. 2007. Philosophy of Islamic Education, Sydney: Hollywood Media Pratama
___________. 2004. History of Islamic Education, Jakarta: PT. King Grafindo Persada.
___________.2003. Educational Thought of Islam, Bandung: Angkasa.
Ramayulis. 2005. Islamic Educational Studies, Jakarta: The Word of Honor.
Tafseer Ahmad. 1991. Science Education in Islamic Perspective, Canberra: Teenagers Rosdakarrya.
Abdul Mujib and Joseph Mudzakkir, 2006Ilmu Islamic Education, Jakarta: Kencana.
Karim Mohammed, 2009. Critical Transformative Education, Yogyakarta: Ar-ruzz media.
Suhartono Suparlan. 2006, Philosophy of education, Yogyakarta: Ar-ruzz media.
Rahman, Munawar Budhy. 2006, read Nurcholis Madjid, Jakarta: LSAF.
*by arief Sugianto tarbiyah student Faculty of Islamic University of Malang
Label:
Filsafat
12:23

1.Tiga Macam Rumusan Tujuan Pendidikan Islam Dan Paradigma Yang Melatarbelakangi Perumusan Tersebut.
a.Pendekatan Melalui Normatif Filosofis
Setrategi perumsan tujuan pendidikan Islam merupakan bagian terpenting dari diskursus tentang Filsafat Pendidikan Islam. Dan tujuannya adalah sesuatu yang dicari atau sesuatu yang diperoleh, yang merupakan suatu hal yang sangat berharga. Oleh karena itu upaya merumuskan tujuan pendidikan Islam harus berparadigma dari nilai-nilai yang paling berharga berupa core bilief dan core values Islam tentang dan kehidupan ini, mengingat persoalan pendidikan adalah persoalan hidup. Berangkat fakta tersebut tujuan pendidikan Islam harus mengarah kepada nilai-nilai Islam tentang hidup dan kehidupan manusia yang hakiki agar aktifitas pendidikan benar-benar mengarah kepada sesuatu yang ideal dalam pembentukan pribadi terdidik dalam kehidupan masyarakat.
Nilai-nilai yang paling berharga yang harus dijadikan paradigma dalam tujuan pendidikan Islam, diantaranya adalah nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman. Dan lebih luasnya yakni:
a)Nilai-Nilai Filosofis
b)Nilai-Nilai Akhlaq
c)Nilai-Nilai Ilmiah
d)Nilai-Nilai Spiritual
e)Nilai-Nilai Karya
f)Nilai-Nilai Ekonomi atau Harta
b.Pendekatan Melalui Analisis Historis
Sejarah merupakan suatu peristiwa masa lalu yang bermakna bagi perjalanan hidup manusia kedepan. Sejarah yang memberikan pengalaman, pelajaran dan hikmah yang amat berharga tentang kebaikan, keburukan dan keterpurukan umat. Nilai-nilai tersebut harus ditanamkan pada diri anak didik agar dapat membentuk kepribadian yang tangguh, jiwa nasionalisme atau patriotisme, kearifan, hikmah dan terhindar dari bodoh.
c. Pendekatan Melalui Analisis Ilmiah Tentang Kehidupan Yang Aktual
Perumusan tujuan pendidikan yang melalui analisis ini dimaksudkan agar lulusan pendidikan senantiasa kontekstual dengan dinamika tuntutan masyaraskat. Setrategi tersebut terdiri dari: pertama, Strategi Investasi Sumber Daya Manusia (manpower Approach). Dimana lulusan pendidikan harus mampu memenuhi tuntutan ketenagakerjaan yang diperlukan oleh masyarakat. Kedua, Teori Ekonomi Neoklasik. Pendidikan adalah investasi, oleh karena itu pendidikan haruslah ,menghasilkan manusia-manusia produktif yang mampu menghasilkan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi.
Jadi melaui ketiga aspek pendekatan tersebut, secara terpadu diperlukan untuk mendapatkan penetapan tujuan yang lebih realistis dan ketiga pendekatan tersebut secara berimbang atau dinamis agar hakikat dari tujuan pendidikan Islam terlaksana.
2.Perkembangan Pemikiran Filsafat Pendidikan
a.Behaviorisme
Paradigma ini berpendapat bahwa: pertama, perilaku anak didik itu terbentuk oleh pengaruh orang dewasa terutama orang tua dan guru. Dalam Psikologi perkembangan aliran ini mirip dengan aliran empirisme John Lock yang mengatakan anak baru lahir bagaikan kertas putih yang mana perkembangannya sangat ditentukan oleh faktor lingkungan. Kedua, tindakan mengikuti stimulus-respon, sehingga bersifat reaktif. Ketiga, hadiah dan hukuman memegang peran penting. Maka asumsinya anak yang melakukan tindakan positif adanya hadiah atau sebaliknya.
Sedangkan dalam konsep Agama Islam kita mengetahui perkembangan anak itu sebagaimana tercantum dalam hadits nabi yang artinya “sesungguhnya anak itu dilahirkan dalam keadaan fithrah dan menjadi yahudi, nashrani, atau majusi itu tergantung dari orang tuanya ”. artilnya bahwa anak itu hakikatnya terlahir dalam keadaan suci dan dalam perkembangan selanjutnya yakni yang berupa karakter dasar adalah orang tuanya, karena proses pemeblajaran dan factor lingkungan.
b.Konservatisme
Dalam dunia pendidikan seorang konservatif beranggapan bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan pola-pola social serta tradisi-tradisi yang sudah mapan. Ada dua ungkapan dasar konservatif dalam pendidikan. Pertama, konservatifisme pendidikan religius, yang menekankan peran sentral pelatihan rohaniah sebagai pembangunan karakter moral yang tepat. Kedua, konservatisme pendidikan sekuler, yang memusatkan perhatiannya pada perlunya melestarikan dan meneruskan keyakinan-keyakinan yang telah ada, sebagai cara untuk menjamin pertahanan hidup secara sosial serta efektivitas secara kuat oleh orientasi pendidikan yang bersifat lebih alkitabiyah dan evangelish (mendakwahkan agama) yang secara theology jelas-jelas secara liberal.
Bagi mereka ketidak sederajatan masyarakat merupakan suatu hukum kesederajatana alami, suatu hukum yang mustahil di hindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau bahkan takdir tuhan. perubahan sosial bagi mereka bukanlah suatu hal yang harus diperjuangkan, karena perubahan akan membuat manusia akan lebih sengsara saja. Dalam bentuknya yang klasik atau awal paradigma konservatif dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan sosial, hanya tuhanlah yang merencanakan perubahan keadaan masyarakat. Tokoh-tokohnya adalah Edmund Burke James Medison dan lain-lain.
c.
Liberalisme
Liberalisme merupakan paradigma berfikir dan kebudayaan yang tengan menjadi mainstream dunia. dimana atmosfir pemikiran maupun konstalasi kemanusiaan konteporer didominasi paradigma liberal ini, sebagai entitas budaya pendidikan dengan sendirinya tidak luput dari keharusan mengikuti madhzab liberal, yang berpijak pada sekulerisme, individualisme, dan pragmatisme. pengaruh tersebut dalam pendidikan Barat tampak pada mengemukannya paradigma pendidikan progresifisme, yang setiap memandang individu sebagai pihak yang paling tahu hal yan terbaik untuk dirinya sendiri. sekolah atau guru tidak berhak menentukan tata nilai yang harus dan tidak semestinya bagi siswa-siswanya.
Selain ide-ide liberal tersebut aliran ini menganggap mengenai pendidikan yakni berangkat dari keyakinan bahwa memang ada masalah di masyarakat tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dengan keyakinan seperti itu tugas pendidikan tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan politik dan ekonomi. sungguhpun demikian, kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan, dengan jalan memecahkan berbagai masalah yang ada dalam pendidikan dengan usaha reformasai “kosmetik”. umumnya yang yang dilakukan adalah seperti: perlunya membangun kelas dan fasilitas baru, memoderenkan peralatan sekolah dengan mengadakan computer yang lebih canggih dan laboratorium, serta berbagai usaha usaha untuk meningkatkan rasio kesehatan murid-guru. selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi dan kurikulum guna meningkatkan lulusan sebagaimana harapan masyarakat pasca-industrialis.
d.Pragmatisme
Paradigma ini menganggap sebuah gagasan (pendidikan) adalah “benar” jika (dan sejauh) ia menuntun kearah konsekuensi-konsekuensi efektif ketika diterapkan ke penyelesaian masalah yang nyata (praktis)
e.Humanisme
Paradigma humanisme berpendapat: pertama, perilaku manusia itu dipertimbangkan oleh multiple intellegencenya . bukan hanya kecerdasan intelektual semata , tetapi juga kecerdasan emosional dan sepiritual. dua kecerdasan terakhir tidak kalah pentingnya dalam menentukan keberhasilan anak didik. bahkan menurut Golmen (2003) justru kecerdasan emosionallah yang paling menentukan keberhasilan anak didik kelas. sedang Danah Zohar (2000), justru kecerdasan yang terakhir (kecerdasan emosional ) yang paling menentukan keberhasilan anak didik.
Melalui kecerdasan sepurituallah kecerdasan lain bisa terkondisi dan berkembang secara maksimal. kedua, anak didik adalah makhluk hidup yang berkarakter dan berkepribadian serta aktif dan dinamis dalam perkembangannya, bukan “benda” yang pasif dan yang hanya mampu mereaksi atau merespon faktor eksternal. Ia memiliki potensi bawaan yang penting. karena itu pendidikan bukan membentuk anak didik sesuai dengan keinginan guru, orang tua ataupun masyarakat, melainkan pembentukan kepribadian dan self concept. Kepribadian dan self concept inilah yang selanjutnya akan memegang peran penting ehidupannya. ketiga, lebih menekankan “to Be” dan aktualisasi diri. biarlah anak didik menjadi diri sendiri, peran pendidik adalah menciptakan kondisi yang terbaik melalui motivasai, pengilhaman, pencerahan, dan pemberdayaan. keempat, pembelajaran harus berpusat pada diri siswa. siswalah yang aktif, yang mengalami dan yang paling merasakan adanya pembelajaran. Bukan semata-mata guru yang mengajar, yang memberi stimulus atau yang beraktualisasi diri.
f.Kritis
Pendidikan bagi mereka merupakan arena perjuangan politik, yang menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat dimana politik berada. bagi mereka kelas dan diskriminasi gender dalam masyarakat tercermin pula dalam dunia pendidikan. dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalam melakukan refleksi kritis terhadap “the dominant ideologi” kearak transformasi sosial. Paradigma pendidikan dari ideologi kritis ini berimplikasi terhadap sub-sistem pendidikan di lembaga-lembaga formal.
3.Aliran-Aliran Pemikiran Dalam Islam Dan Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan Islam
1.Perkembangan Aliran Pemkiran Pendidikan Islam
Dalam perkembangan aliran dalam filsafat Islam telah menghasilkan pemikiran-pemikiran yang khas dalam berbabagai bidang hidup kehidupan manusia dan dalam hal berhubungan dengan Tuhan dan alam semesta. Dalam arus Pemikiran filsafat ada empat golongan yaitu Pripetetik (Masa’i) tokohnya Aristoteles, Al-Kindi, dan Al-Farabi, Iluminasi (Isroqi) Plato, Suhrowardi, Irfan dengan tokoh Al-Hallaj, Ibnu Arabi. Kalam yang terbagi menjadi tiga kelompok yakni, As’ariah dengan pendekatan jabariyah atau determininistik, Mu’tazilah dengan pendekatan bebes atau free will, Syiah dengan tokohnya sheh Mufid, seheh Attusi, dengan pendekatan Amru baina amrain/intregratif. Sedang kelima adalah perpaduan antara empat aliran tersebut dalam Muta’aliyah (Filsafat transcendental/Madzab Shadariyah).
Jadi seperti penjelasan tersebut maka aliran akan membawa pada perunahan pada filsafat pendidikan Islam atau keadaan Islam, yang akan diuraikan berdasarkan tokoh-tokoh pemikir dalam proses pembaharuan pendidikan Islam, dimano tokoh-tokon ini juga mengambil ide-ide aliran dalam filsafat pendidikan Islam Diantaranya :
a. Al-Ghozali
Filosuf muslim dengan nama lengkap Abu Hamid bin Muhammad Ahmad Al-Ghoyali lahir di Thus pada tahun 405H/1058M. Diantara pemikiranya yang terpenting tentang pendidikan Islam tertuang dalam tiga karyanya yakni Fatihah al-kitab, Ayyuha al-Walad dan Ihya ‘ulun al-Din. dari karyanya tersebut terlihat bahwa Al-Ghozali merupakan sosok pemerhati terhadap proses traninternalisasi ilmu dan pelaksanaan pendidikan. menurut Al-Ghozali transinternalisasi ilmu dan proses pendidikan merupakan sarana utama dalam mensyiarkan agama Islam. secara sistematis, pemikirannya memiliki corak yang tersendiri. ia secara jelas dan tuntas mengungkapkan pendidikan sebagai suatu sestem yang terdiri dari beberapa komponen. totalitas pandangannya meliput hakikat tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, materi, dan metode pendidikan.
b.Ibn Khaldun
Pemilik nama lengkap Abd’ Al-Rahman Abu Zaid ibn Muhammad Ibn Muhammad ibn Khaldun lahir di Tunesia 732H/1332M ini merupakan pemikir atau filosuf yang sangat termasyur di dunia. dengan karya monumentalnya berjudul al-Muqaddimah yang merupakan sebuaah karya pengantar dari karya universalnya. pandangan khaldun tentang dunia pendidikan Islam berpijak pada konsep dan pendekatan filosofis-empiris, melalui pendekatan ini memberikan arah terhadap visi tujuan pendidikan Islam secara ideal dan praktis.
c.Ikhwan Al-Shafa
Ikhwan Al-Shafa adalah perkumpulan rahasia yang bergerak dalam lapangan ilmu pengetahuan. Yang memiliki arti persaudaraan yang suci dan bersih, maka azas utama perkumpulan adalah persaudaraan yang dilakukan secara tulus ikhlas kesetiakawanan, yang suci murni. Perkumpulan ini lahir pada abad ke-10 M. dan secara umum kemunculan pergerakan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan oleh pelaksanaan ajaran Islam yang telah tercemar oleh ajaran-ajaran diluar Islam.
Menurutnya, pendidikan merupakan suatu aktivitas yang berhubungan dengan kebijaksanaan, maka gerakan ini memfokuskan untuk mempelajari filsafat Yunani, Persia, dan lain-lain. Pandangannya mengenai pendidikan bahwa pendidikan akan dikatakan bijaksana apabila dapat memberikan pendidikan yang terbaik kepada peserta didik.
d.K.H Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta 1868-1923. setelah beliau belajar di Mesir dan sekembalinya ke Indonesia dia melihat penyelewengan tentang ajaran agama Islam yang mana setelah itu Ahamad Dahlan menginginkan pemurnian ajaran agama Islam. Hal ini oleh Ahmad Dahlan diatasi dengan mendirikan pendidikan dan lembaga social sebagai wujud kepeduliannya terhadap kondisi umat pada saat itu.
Melalui Muhammadiyah yang Beliau dirikan pada tahun 1912, Ahmad Dahlan membangun lembaga pendidikan yang menjadi dasar dari pola piker tentang pendidikan yang ideal yang diinginkannya. Menurutnya, pelaksanaan pendidikan hendaknya didasarkan pada landasan yang kokoh yang merupakan landasan filosofis dalam merumuskan konsep pendidikan dan tujuan ideal pendidikan Islam. Hematnya juga bahwa pendidikan Islam hendaknya diarahkan kepada usaha pembentukan manusia muslim yang berbudi luhur alim dalam agama luas pandangan dan paham masalah keduniaan serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakat. Dalam menerapkan konsep pendidikan beliau mencontoh konsep Barat sehingga menimbulkan perlawanan dari masyrakat setempat.
e.Zainudin Labay El-Yunus
Syeh Zainudin Labay Al-Yunusi yang dilahirkan di Bukit Surungan Padangpanjang 1890-1924 dan ia sekolah di Governement Padangpanjang karena tidak merasa puas dengan metode pembelajarannya saat itu ia keluar. Walaupun demikian semangat untuk belajar tidak pudar, maka ditempuhlah secara outodidak kepada kyai-kyai yang ternama pada saat itu. Dan ia juga mempelajari buku-buku Barat sehingga muncul semangat pembaharuan pendidikan Islam pada dirinya. Hal ini terbukti dengan aktivitas pendidikan yang dilakukannya, melalui didirikannya lembaga sekolah yang diberi nama Diniyyah School pada tahun 1915 M yang menjadi awal mula pesantren modern di Indonesia.
f.Syeh Muhammad Naquib Al-attas
Dilahirkan di Bogor 1931 dia adalah intelektual Islam yang sejak masa kecilnya telah dihadapkan dengan realita masyarakat bebas dan keras pada masa kolonial. Dan dia berhasil menyelesaikan pendidikannya mulai pendidikan dasar dan perguruan tingginya pada usia muda dan yang lebih fantastis dan mendapat gelar Profesor dalam usia muda. Dan karya-karyanya sungguh tidak terhitung jumlahnya dan memberikan manfaat yang besar terhadap dunia pendidikan umumnya kepada dupnia Islam.
g.Rahmat El-Yunushia
Dia lahir di Padangpanjang 1318 H-1338 H. Dalam dunia pendidikan ia lebih terkonsentrasi pada pendidikan wanita atas dorongan keyakinan bahwa terdapat maslah-masalah yang berlaku bagi perempuan yang hanya dapat diberikan oleh perempuan pula. Maka ia medirikan madarasah diniyyah putri yang memberi pengajaran tentang pengetahuan dan keterampilan kaum perempuan. Dan ide pembaharuan yang ditawarkan dan pada waktu itu belu dikenal yakni menyeimbangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor dalam proses mendidik.
h.Hasyim Asy’ari
Dilahirkan di Jombang Jawa Timur yang merupakan pendiri organisasi Islam yang bernama Nahdlotul Ulama’. Dan dia merupakan ulama’ tradisiopnal yang sangat produktif, hal ini terbukti dengan banyaknya karaya yang telah dihasilakan dan salah satunya adalah kitab yang berbicara tentang pendidikan yang sangat fenomenal yaitu Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’alim Fiimaa Yahtaj Ilah Al-Muta’alim fii Ahua Ta’alum Wama Yataqof Ta’limihi. Yang berisi tentang bahtera pemikirannya tentang pendidikan.
4.Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits serta penjelasan para ulama’ yang menjadi dasar pemikiran pendidikan islam tentang tujuan pendidikan, metode pembelajaran, interaksi edukatif guru-murid, lingkungan pendidikan.
a.Tujuan Pendidikan
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Sedangkan menurut Rosulullah Bahwasannya tujuan pendidikan Islam itu tertuang dalam sabdanya “I’maluu fakullun muyassarun lima Khuliqo lahuu” yang artinya bekerjalah kamu maka setiap orang akan dimudahkan menuju sesuatu yang diciptakan Allah untuknya.
Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berkesadaran dan bertujuan, Allah telah menyusun landasan pendidikan yang jelas bagi seluruh umat manusia melalui syari’at Islam. Konsep ketinggian dan ke-Universal-an harus difahami. Seperti pengkajian alam semesta yang disertai dengan pemahaman atas kejelasan dan landasan tujuan penciptaannya dan berakhir pada semakin kuatnya keyakian dan keimanan manusia atas keberadaan Allah.
Allah menciptakan alam semesta dengan tujuan yang jelas, Allah mencipitakan manusia dalam tujuan untuk menjadi kholifah di muka bumi melalui ketaatan. Untuk memdukan kedua penciptaan tersebut diperlukan orientasi tujuan manusia yang jelas, maka Allah memberikan hidayah serta berbagai fasilitas alam semestasebagai sarana.
b.Metode Pembelajaran
Pada intinya metode pendidikan Islam sangat efektif dalam membentuk kepribadian anak didik. Dan memotifasi anak didik sehingga aplikasi metode ini menginginkan puluhan ribu kaum muslimin dapat membuka hati manusia untuk mendapatkan petunjuk ilahi dan konsep-konsep perdadaban Islam. Metode yang dianggap paling penting adalahsebagai berikut:
Metode dialog Qur’ani dan Nabawi
“Qosamtu Ash-sholat bainii wa bainaa abdii nishfaini wa lii ‘abdi maa saala” yang artinya aku membagi sholat antara akku dan hambaku untuk-Ku separuh dan separuhnya lagi untuk hamba-Ku dan baginya apa yang dia pinta. HR. Muslim.
Metode melalui kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi
Dalam mendidik anak didik dalam pendidkan Islam melalui metode kisah-kisah dapat memberikan dampak secara psikologis dan edukatif yang mengarahkan anak didik kepada kehangatan perasaan kehidupan kedinamisan jiwa selain itu kisah dapat membangkitkan kesadaran jiwa akan cerita tersebut. Sebagaimana contohnya dalam ayat Al-Qur’an surat Hud ayat 49, disajikan untuk mengokohkan risalah Rosulullah
“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
Al-Baqoroh (260) yang memberikan penjelasan rinci tentang kekuasaan Allah.
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Mendidik melalui perumpamaan Qur’ani dan Nabawi
Perumpamaan Qur’ani nabawi ini tidak hanya menunjukkan ketinggian karya seni hanya ditunjukkan untuk meraih keindahan balagho semata, tetapi memiliki tujuan psikologis edukatiuf, diantaranya memudahkan pemahaman tentang konsep untuk memahami makna spiritual suatu perkara, mempengaruhi emosi secara konsep sejalan dengan konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka perasaan ketuhanan, membina akal untuk terbiasa berfikir secara valit dan analogis, mampu menciptakan motivasi yang menggerakkan mental dan emosional seseorang. Misalnya dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 17 tentang kemukjizatan balaghohnya.
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
Mendidik melalui keteladanan
Dalam sebuah pendidikan untuk membentuk kepribadian dasar siswa diperlukan sebuah figur teladan sebagaimana QS. Al-Ahzab (21)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.
Dalam ayat tersebut potret tokoh panutan bagi umat. Kemudian dalam pendidikan diperlukan pentingnya sosok panutan sebagaimana panutan tersebut beperilaku seperti sunnah nabi.
Mendidik melalui aplikasi dan pengamalan
Agama Islam adalah agama yang realis bukan agama yang irasional yang mengetengahkan kjonsep-konsep abstrak yang menjadi sulit difahami oleh penganutnya. Dalam sistem pendidikan pengajaran pendidikan agama Islam harus sesuai dengan apa yang diinginkan oleh agama itu sendiri. Yaitu melalui praktek dan perbuatan. Sedangkan nabi sendiri ketika membina para sahabat menggunakan metode praktek langsung, misalnya ketika mengajarkan sholat beliau memimpin langsung para sahabat dari atas mimbar, sementara para sahabat mejadi makmum dibelakang beliau.
Mendidik melalui nasihat
Pendidikan melalui nasihat ini tertuang dalam QS. Al-Luqman (13-19) dan QS An-Nahl (125)
Mendidik melalui Targhib wa Tarhib
Model pendidikan Islam ini didasarkan atas perkara yang memang telah allah ciptakan dalam diri manusia, yaitu kecintaan terhadap kelezatan, kenikmatan, kemewahan, kehidupan yang lestari, serta ketakutan terhadap kepedihan, kecelakaan, dan tempat kemballi yang buruk. Seperti yang tertuang dalam QS. Maryam (70-72) dan QS Az-Zumar (15-16)
c.Interaksi Edukatif Guru-Murid
Hal ini disebutkan dalam QS. Al-Kahfi (70-78), QS. Fhusilat (33-34), dan lain-lain.
d.Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan yang dimaksud di sini adalah segala tempat yang dapat menunjang keberlangsungan proses belajar mengajar tersebut. Seperti, lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Dalam memahami lingkungan tersebut tertunag dalam QS. Al-Hadid (27)
“Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan Rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang- orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah. Padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik”.
5. Alasan Umat Islam Menjadi Yang Terbelakang Dalam Bidang Pendidikan Dengan Solusi Dalam Prespektif Filsafat Pendidikan
Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdur Rahman Mas’ud dalam pengantar buku yang ditulis oleh Tobroni, menyebutkan bahwa kemunduran umat Islam sangat terkait erat dengan tradisi filsafat, yang dimulai pada abad 7 samapai 11 M Islam menunjukkan kehebatannya dalam pencapian ilmu baik agama atau nonagama. Islam yang dibawa ole nabi Mujhammad saw lahir belakangan tetapi menguasai dunia terlebih dahulu meninggalkan Kristen dibelakang pada rentan abad ini muncullah para pemikir dan intelektual Islam yang amat begitu melegenda dan membawa umat Islam ke dalam peradaban yang lebih maju, karena para tokoh tersebut telah berafilisiasi dalam intelektualnya dengan filsafat (pintu ijtihad terbuka lebar). Akan tetapi setelah abad ke 11 banyak para tokooh Islam menganggap pintu ijtihad telah tertutup (tak berfilsafat). Dan terjadinya degradasi pemikiran pada saat itu. Sehingga mengakibatkan Islam tertindas dengan keadaan itu. Kemudian terjadinya peralihan secara besar-besaran sistem politik Islam yang berakibat pada hancurnya kerajaan-kerajaan Islam yang telah menguasai dunia.
Menurut John W bahwa kemunduran Islam itu lebih disebabkan oleh aspek sosial politik dan hal ini tercermin dari runtuhnya daulah di Andalusia yang merupakan pusat studi ilmu pengetahuan di dunia. Kemudian terjadinya perang Salib yang begitu merugikan dunia pendidikan dlam Islam. Dana hal ini ditandai dengan tragedi mahadahsat yaitu penghancuran perpustakaan Islam.
Menurut Suparlan Suhartono bahwa kemunduran Islam dikarenakan muncul imperium baru yakni, Barat yang telah berhasil memasukkan ide-idenya secara sengit (Liberalisme, sekulerisme, dan lain-lain). Dan menjadikan kondisi internal Islam terjadi krisis multidimensional seperti kemunafikan politik kebangkrutan ekonomi, ketidakadilan hokum, kehancuran pendidikan dan kebudayaan dan masyarakatnya terlalu idealis. Dan dapat disimpulkan dengan kejadian tersebut umat Islam cenderung terpecah belah.
SolusiUntuk mengembalikan kejayaan Islam salah satunya adalah memperbaiki sistem pendidikan khususnya pendidikan Islam. Dimana dalam pengemabalian sistem pendidikan ini tidak tergantung pada sistem pendidikan yang lama, namun terdapat inovasi-inovasi yang dapat membangkitkan semangat untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam masa krisis intelek ini. Selanjutnya ketika Islam menginginkan kejayaan sesuai dengan keadaan awal, maka pendidikan Islam harus mampu mengorek secara riil sesuai dengan, pertama, peradigma filosofis yakni mencari model-model yang ideal dalam pendidikan Islam, sehingga mampu mengarah kepada tradisi filsafat yang hidup pada abad 7-11 M. Kedua, paradigma theologis yakni suatu pendidikan yang mempu mengejawantahkan tentang nilai, norma, dan ajaran Islam tentang pendidikan itu sendiri. Ketiga, paradigma spiritualitas, kemajuan peradaban yang dimotori oleh kemajuan scien dan teknologi, konsekuensi dari pendidikan sebagai education as growth dan education as Social fungcion. Mengatakan bahwa fungsi pendidikan yang utama adalah, pendidikan adalah human investment.
Referensi
1. Tafsir, Ahmad. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Rosda karya
2. Tobroni. 2008. Pendidikan Islam Paradigma Teologis, Filosofis dan Spiritualitas. Malang: UMM Press.
3. Boy Pradana ZTF.2003. Filsafat Islam. Malang: UMMpress.
4. O’Neil F Wililliam, Education Ideologies: Contemporary Exppressions of Educational Philosopies (Amerika Serikat:Goodyear Pubhlising Company:1981). Alih bahasa Omi Intan Naomi, 2002. Ideologi-ideologi Pendidikan. Pustaka pelajar:Yogyakarta
5. Suparlan, Suhartono. 2006. Filsafat Pendidikan. Jogyakarta: Ar-Ruzz.
6. An-Nahlawi, Abdurrahman. 1995. Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press.
7. Hanafi Ahmad. 1990. Pengantar Filsafat Islam. Bulan Bintang: Jakarta.
8. Prasetya.1999. Filsafat Pendidikan. Pustaka Setia: Bandung.
9. Zuhairini. dkk.1995. Filsafat Pendidikan Islam. Bumi Aksara: Jakarta.
10. Nata Abuddin.1997. Filsafat Pendidikan Islam, Logos Wacana Ilmu: Jakarta.
filsafat pendidikan Islam

1.Tiga Macam Rumusan Tujuan Pendidikan Islam Dan Paradigma Yang Melatarbelakangi Perumusan Tersebut.
a.Pendekatan Melalui Normatif Filosofis
Setrategi perumsan tujuan pendidikan Islam merupakan bagian terpenting dari diskursus tentang Filsafat Pendidikan Islam. Dan tujuannya adalah sesuatu yang dicari atau sesuatu yang diperoleh, yang merupakan suatu hal yang sangat berharga. Oleh karena itu upaya merumuskan tujuan pendidikan Islam harus berparadigma dari nilai-nilai yang paling berharga berupa core bilief dan core values Islam tentang dan kehidupan ini, mengingat persoalan pendidikan adalah persoalan hidup. Berangkat fakta tersebut tujuan pendidikan Islam harus mengarah kepada nilai-nilai Islam tentang hidup dan kehidupan manusia yang hakiki agar aktifitas pendidikan benar-benar mengarah kepada sesuatu yang ideal dalam pembentukan pribadi terdidik dalam kehidupan masyarakat.
Nilai-nilai yang paling berharga yang harus dijadikan paradigma dalam tujuan pendidikan Islam, diantaranya adalah nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman. Dan lebih luasnya yakni:
a)Nilai-Nilai Filosofis
b)Nilai-Nilai Akhlaq
c)Nilai-Nilai Ilmiah
d)Nilai-Nilai Spiritual
e)Nilai-Nilai Karya
f)Nilai-Nilai Ekonomi atau Harta
b.Pendekatan Melalui Analisis Historis
Sejarah merupakan suatu peristiwa masa lalu yang bermakna bagi perjalanan hidup manusia kedepan. Sejarah yang memberikan pengalaman, pelajaran dan hikmah yang amat berharga tentang kebaikan, keburukan dan keterpurukan umat. Nilai-nilai tersebut harus ditanamkan pada diri anak didik agar dapat membentuk kepribadian yang tangguh, jiwa nasionalisme atau patriotisme, kearifan, hikmah dan terhindar dari bodoh.
c. Pendekatan Melalui Analisis Ilmiah Tentang Kehidupan Yang Aktual
Perumusan tujuan pendidikan yang melalui analisis ini dimaksudkan agar lulusan pendidikan senantiasa kontekstual dengan dinamika tuntutan masyaraskat. Setrategi tersebut terdiri dari: pertama, Strategi Investasi Sumber Daya Manusia (manpower Approach). Dimana lulusan pendidikan harus mampu memenuhi tuntutan ketenagakerjaan yang diperlukan oleh masyarakat. Kedua, Teori Ekonomi Neoklasik. Pendidikan adalah investasi, oleh karena itu pendidikan haruslah ,menghasilkan manusia-manusia produktif yang mampu menghasilkan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi.
Jadi melaui ketiga aspek pendekatan tersebut, secara terpadu diperlukan untuk mendapatkan penetapan tujuan yang lebih realistis dan ketiga pendekatan tersebut secara berimbang atau dinamis agar hakikat dari tujuan pendidikan Islam terlaksana.
2.Perkembangan Pemikiran Filsafat Pendidikan
a.Behaviorisme
Paradigma ini berpendapat bahwa: pertama, perilaku anak didik itu terbentuk oleh pengaruh orang dewasa terutama orang tua dan guru. Dalam Psikologi perkembangan aliran ini mirip dengan aliran empirisme John Lock yang mengatakan anak baru lahir bagaikan kertas putih yang mana perkembangannya sangat ditentukan oleh faktor lingkungan. Kedua, tindakan mengikuti stimulus-respon, sehingga bersifat reaktif. Ketiga, hadiah dan hukuman memegang peran penting. Maka asumsinya anak yang melakukan tindakan positif adanya hadiah atau sebaliknya.
Sedangkan dalam konsep Agama Islam kita mengetahui perkembangan anak itu sebagaimana tercantum dalam hadits nabi yang artinya “sesungguhnya anak itu dilahirkan dalam keadaan fithrah dan menjadi yahudi, nashrani, atau majusi itu tergantung dari orang tuanya ”. artilnya bahwa anak itu hakikatnya terlahir dalam keadaan suci dan dalam perkembangan selanjutnya yakni yang berupa karakter dasar adalah orang tuanya, karena proses pemeblajaran dan factor lingkungan.
b.Konservatisme
Dalam dunia pendidikan seorang konservatif beranggapan bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan pola-pola social serta tradisi-tradisi yang sudah mapan. Ada dua ungkapan dasar konservatif dalam pendidikan. Pertama, konservatifisme pendidikan religius, yang menekankan peran sentral pelatihan rohaniah sebagai pembangunan karakter moral yang tepat. Kedua, konservatisme pendidikan sekuler, yang memusatkan perhatiannya pada perlunya melestarikan dan meneruskan keyakinan-keyakinan yang telah ada, sebagai cara untuk menjamin pertahanan hidup secara sosial serta efektivitas secara kuat oleh orientasi pendidikan yang bersifat lebih alkitabiyah dan evangelish (mendakwahkan agama) yang secara theology jelas-jelas secara liberal.
Bagi mereka ketidak sederajatan masyarakat merupakan suatu hukum kesederajatana alami, suatu hukum yang mustahil di hindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau bahkan takdir tuhan. perubahan sosial bagi mereka bukanlah suatu hal yang harus diperjuangkan, karena perubahan akan membuat manusia akan lebih sengsara saja. Dalam bentuknya yang klasik atau awal paradigma konservatif dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan sosial, hanya tuhanlah yang merencanakan perubahan keadaan masyarakat. Tokoh-tokohnya adalah Edmund Burke James Medison dan lain-lain.
c.
Liberalisme
Liberalisme merupakan paradigma berfikir dan kebudayaan yang tengan menjadi mainstream dunia. dimana atmosfir pemikiran maupun konstalasi kemanusiaan konteporer didominasi paradigma liberal ini, sebagai entitas budaya pendidikan dengan sendirinya tidak luput dari keharusan mengikuti madhzab liberal, yang berpijak pada sekulerisme, individualisme, dan pragmatisme. pengaruh tersebut dalam pendidikan Barat tampak pada mengemukannya paradigma pendidikan progresifisme, yang setiap memandang individu sebagai pihak yang paling tahu hal yan terbaik untuk dirinya sendiri. sekolah atau guru tidak berhak menentukan tata nilai yang harus dan tidak semestinya bagi siswa-siswanya.
Selain ide-ide liberal tersebut aliran ini menganggap mengenai pendidikan yakni berangkat dari keyakinan bahwa memang ada masalah di masyarakat tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dengan keyakinan seperti itu tugas pendidikan tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan politik dan ekonomi. sungguhpun demikian, kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan, dengan jalan memecahkan berbagai masalah yang ada dalam pendidikan dengan usaha reformasai “kosmetik”. umumnya yang yang dilakukan adalah seperti: perlunya membangun kelas dan fasilitas baru, memoderenkan peralatan sekolah dengan mengadakan computer yang lebih canggih dan laboratorium, serta berbagai usaha usaha untuk meningkatkan rasio kesehatan murid-guru. selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan metodologi dan kurikulum guna meningkatkan lulusan sebagaimana harapan masyarakat pasca-industrialis.
d.Pragmatisme
Paradigma ini menganggap sebuah gagasan (pendidikan) adalah “benar” jika (dan sejauh) ia menuntun kearah konsekuensi-konsekuensi efektif ketika diterapkan ke penyelesaian masalah yang nyata (praktis)
e.Humanisme
Paradigma humanisme berpendapat: pertama, perilaku manusia itu dipertimbangkan oleh multiple intellegencenya . bukan hanya kecerdasan intelektual semata , tetapi juga kecerdasan emosional dan sepiritual. dua kecerdasan terakhir tidak kalah pentingnya dalam menentukan keberhasilan anak didik. bahkan menurut Golmen (2003) justru kecerdasan emosionallah yang paling menentukan keberhasilan anak didik kelas. sedang Danah Zohar (2000), justru kecerdasan yang terakhir (kecerdasan emosional ) yang paling menentukan keberhasilan anak didik.
Melalui kecerdasan sepurituallah kecerdasan lain bisa terkondisi dan berkembang secara maksimal. kedua, anak didik adalah makhluk hidup yang berkarakter dan berkepribadian serta aktif dan dinamis dalam perkembangannya, bukan “benda” yang pasif dan yang hanya mampu mereaksi atau merespon faktor eksternal. Ia memiliki potensi bawaan yang penting. karena itu pendidikan bukan membentuk anak didik sesuai dengan keinginan guru, orang tua ataupun masyarakat, melainkan pembentukan kepribadian dan self concept. Kepribadian dan self concept inilah yang selanjutnya akan memegang peran penting ehidupannya. ketiga, lebih menekankan “to Be” dan aktualisasi diri. biarlah anak didik menjadi diri sendiri, peran pendidik adalah menciptakan kondisi yang terbaik melalui motivasai, pengilhaman, pencerahan, dan pemberdayaan. keempat, pembelajaran harus berpusat pada diri siswa. siswalah yang aktif, yang mengalami dan yang paling merasakan adanya pembelajaran. Bukan semata-mata guru yang mengajar, yang memberi stimulus atau yang beraktualisasi diri.
f.Kritis
Pendidikan bagi mereka merupakan arena perjuangan politik, yang menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat dimana politik berada. bagi mereka kelas dan diskriminasi gender dalam masyarakat tercermin pula dalam dunia pendidikan. dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalam melakukan refleksi kritis terhadap “the dominant ideologi” kearak transformasi sosial. Paradigma pendidikan dari ideologi kritis ini berimplikasi terhadap sub-sistem pendidikan di lembaga-lembaga formal.
3.Aliran-Aliran Pemikiran Dalam Islam Dan Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan Islam
1.Perkembangan Aliran Pemkiran Pendidikan Islam
Dalam perkembangan aliran dalam filsafat Islam telah menghasilkan pemikiran-pemikiran yang khas dalam berbabagai bidang hidup kehidupan manusia dan dalam hal berhubungan dengan Tuhan dan alam semesta. Dalam arus Pemikiran filsafat ada empat golongan yaitu Pripetetik (Masa’i) tokohnya Aristoteles, Al-Kindi, dan Al-Farabi, Iluminasi (Isroqi) Plato, Suhrowardi, Irfan dengan tokoh Al-Hallaj, Ibnu Arabi. Kalam yang terbagi menjadi tiga kelompok yakni, As’ariah dengan pendekatan jabariyah atau determininistik, Mu’tazilah dengan pendekatan bebes atau free will, Syiah dengan tokohnya sheh Mufid, seheh Attusi, dengan pendekatan Amru baina amrain/intregratif. Sedang kelima adalah perpaduan antara empat aliran tersebut dalam Muta’aliyah (Filsafat transcendental/Madzab Shadariyah).
Jadi seperti penjelasan tersebut maka aliran akan membawa pada perunahan pada filsafat pendidikan Islam atau keadaan Islam, yang akan diuraikan berdasarkan tokoh-tokoh pemikir dalam proses pembaharuan pendidikan Islam, dimano tokoh-tokon ini juga mengambil ide-ide aliran dalam filsafat pendidikan Islam Diantaranya :
a. Al-Ghozali
Filosuf muslim dengan nama lengkap Abu Hamid bin Muhammad Ahmad Al-Ghoyali lahir di Thus pada tahun 405H/1058M. Diantara pemikiranya yang terpenting tentang pendidikan Islam tertuang dalam tiga karyanya yakni Fatihah al-kitab, Ayyuha al-Walad dan Ihya ‘ulun al-Din. dari karyanya tersebut terlihat bahwa Al-Ghozali merupakan sosok pemerhati terhadap proses traninternalisasi ilmu dan pelaksanaan pendidikan. menurut Al-Ghozali transinternalisasi ilmu dan proses pendidikan merupakan sarana utama dalam mensyiarkan agama Islam. secara sistematis, pemikirannya memiliki corak yang tersendiri. ia secara jelas dan tuntas mengungkapkan pendidikan sebagai suatu sestem yang terdiri dari beberapa komponen. totalitas pandangannya meliput hakikat tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, materi, dan metode pendidikan.
b.Ibn Khaldun
Pemilik nama lengkap Abd’ Al-Rahman Abu Zaid ibn Muhammad Ibn Muhammad ibn Khaldun lahir di Tunesia 732H/1332M ini merupakan pemikir atau filosuf yang sangat termasyur di dunia. dengan karya monumentalnya berjudul al-Muqaddimah yang merupakan sebuaah karya pengantar dari karya universalnya. pandangan khaldun tentang dunia pendidikan Islam berpijak pada konsep dan pendekatan filosofis-empiris, melalui pendekatan ini memberikan arah terhadap visi tujuan pendidikan Islam secara ideal dan praktis.
c.Ikhwan Al-Shafa
Ikhwan Al-Shafa adalah perkumpulan rahasia yang bergerak dalam lapangan ilmu pengetahuan. Yang memiliki arti persaudaraan yang suci dan bersih, maka azas utama perkumpulan adalah persaudaraan yang dilakukan secara tulus ikhlas kesetiakawanan, yang suci murni. Perkumpulan ini lahir pada abad ke-10 M. dan secara umum kemunculan pergerakan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan oleh pelaksanaan ajaran Islam yang telah tercemar oleh ajaran-ajaran diluar Islam.
Menurutnya, pendidikan merupakan suatu aktivitas yang berhubungan dengan kebijaksanaan, maka gerakan ini memfokuskan untuk mempelajari filsafat Yunani, Persia, dan lain-lain. Pandangannya mengenai pendidikan bahwa pendidikan akan dikatakan bijaksana apabila dapat memberikan pendidikan yang terbaik kepada peserta didik.
d.K.H Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta 1868-1923. setelah beliau belajar di Mesir dan sekembalinya ke Indonesia dia melihat penyelewengan tentang ajaran agama Islam yang mana setelah itu Ahamad Dahlan menginginkan pemurnian ajaran agama Islam. Hal ini oleh Ahmad Dahlan diatasi dengan mendirikan pendidikan dan lembaga social sebagai wujud kepeduliannya terhadap kondisi umat pada saat itu.
Melalui Muhammadiyah yang Beliau dirikan pada tahun 1912, Ahmad Dahlan membangun lembaga pendidikan yang menjadi dasar dari pola piker tentang pendidikan yang ideal yang diinginkannya. Menurutnya, pelaksanaan pendidikan hendaknya didasarkan pada landasan yang kokoh yang merupakan landasan filosofis dalam merumuskan konsep pendidikan dan tujuan ideal pendidikan Islam. Hematnya juga bahwa pendidikan Islam hendaknya diarahkan kepada usaha pembentukan manusia muslim yang berbudi luhur alim dalam agama luas pandangan dan paham masalah keduniaan serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakat. Dalam menerapkan konsep pendidikan beliau mencontoh konsep Barat sehingga menimbulkan perlawanan dari masyrakat setempat.
e.Zainudin Labay El-Yunus
Syeh Zainudin Labay Al-Yunusi yang dilahirkan di Bukit Surungan Padangpanjang 1890-1924 dan ia sekolah di Governement Padangpanjang karena tidak merasa puas dengan metode pembelajarannya saat itu ia keluar. Walaupun demikian semangat untuk belajar tidak pudar, maka ditempuhlah secara outodidak kepada kyai-kyai yang ternama pada saat itu. Dan ia juga mempelajari buku-buku Barat sehingga muncul semangat pembaharuan pendidikan Islam pada dirinya. Hal ini terbukti dengan aktivitas pendidikan yang dilakukannya, melalui didirikannya lembaga sekolah yang diberi nama Diniyyah School pada tahun 1915 M yang menjadi awal mula pesantren modern di Indonesia.
f.Syeh Muhammad Naquib Al-attas
Dilahirkan di Bogor 1931 dia adalah intelektual Islam yang sejak masa kecilnya telah dihadapkan dengan realita masyarakat bebas dan keras pada masa kolonial. Dan dia berhasil menyelesaikan pendidikannya mulai pendidikan dasar dan perguruan tingginya pada usia muda dan yang lebih fantastis dan mendapat gelar Profesor dalam usia muda. Dan karya-karyanya sungguh tidak terhitung jumlahnya dan memberikan manfaat yang besar terhadap dunia pendidikan umumnya kepada dupnia Islam.
g.Rahmat El-Yunushia
Dia lahir di Padangpanjang 1318 H-1338 H. Dalam dunia pendidikan ia lebih terkonsentrasi pada pendidikan wanita atas dorongan keyakinan bahwa terdapat maslah-masalah yang berlaku bagi perempuan yang hanya dapat diberikan oleh perempuan pula. Maka ia medirikan madarasah diniyyah putri yang memberi pengajaran tentang pengetahuan dan keterampilan kaum perempuan. Dan ide pembaharuan yang ditawarkan dan pada waktu itu belu dikenal yakni menyeimbangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor dalam proses mendidik.
h.Hasyim Asy’ari
Dilahirkan di Jombang Jawa Timur yang merupakan pendiri organisasi Islam yang bernama Nahdlotul Ulama’. Dan dia merupakan ulama’ tradisiopnal yang sangat produktif, hal ini terbukti dengan banyaknya karaya yang telah dihasilakan dan salah satunya adalah kitab yang berbicara tentang pendidikan yang sangat fenomenal yaitu Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’alim Fiimaa Yahtaj Ilah Al-Muta’alim fii Ahua Ta’alum Wama Yataqof Ta’limihi. Yang berisi tentang bahtera pemikirannya tentang pendidikan.
4.Ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits serta penjelasan para ulama’ yang menjadi dasar pemikiran pendidikan islam tentang tujuan pendidikan, metode pembelajaran, interaksi edukatif guru-murid, lingkungan pendidikan.
a.Tujuan Pendidikan
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Sedangkan menurut Rosulullah Bahwasannya tujuan pendidikan Islam itu tertuang dalam sabdanya “I’maluu fakullun muyassarun lima Khuliqo lahuu” yang artinya bekerjalah kamu maka setiap orang akan dimudahkan menuju sesuatu yang diciptakan Allah untuknya.
Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berkesadaran dan bertujuan, Allah telah menyusun landasan pendidikan yang jelas bagi seluruh umat manusia melalui syari’at Islam. Konsep ketinggian dan ke-Universal-an harus difahami. Seperti pengkajian alam semesta yang disertai dengan pemahaman atas kejelasan dan landasan tujuan penciptaannya dan berakhir pada semakin kuatnya keyakian dan keimanan manusia atas keberadaan Allah.
Allah menciptakan alam semesta dengan tujuan yang jelas, Allah mencipitakan manusia dalam tujuan untuk menjadi kholifah di muka bumi melalui ketaatan. Untuk memdukan kedua penciptaan tersebut diperlukan orientasi tujuan manusia yang jelas, maka Allah memberikan hidayah serta berbagai fasilitas alam semestasebagai sarana.
b.Metode Pembelajaran
Pada intinya metode pendidikan Islam sangat efektif dalam membentuk kepribadian anak didik. Dan memotifasi anak didik sehingga aplikasi metode ini menginginkan puluhan ribu kaum muslimin dapat membuka hati manusia untuk mendapatkan petunjuk ilahi dan konsep-konsep perdadaban Islam. Metode yang dianggap paling penting adalahsebagai berikut:
Metode dialog Qur’ani dan Nabawi
“Qosamtu Ash-sholat bainii wa bainaa abdii nishfaini wa lii ‘abdi maa saala” yang artinya aku membagi sholat antara akku dan hambaku untuk-Ku separuh dan separuhnya lagi untuk hamba-Ku dan baginya apa yang dia pinta. HR. Muslim.
Metode melalui kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi
Dalam mendidik anak didik dalam pendidkan Islam melalui metode kisah-kisah dapat memberikan dampak secara psikologis dan edukatif yang mengarahkan anak didik kepada kehangatan perasaan kehidupan kedinamisan jiwa selain itu kisah dapat membangkitkan kesadaran jiwa akan cerita tersebut. Sebagaimana contohnya dalam ayat Al-Qur’an surat Hud ayat 49, disajikan untuk mengokohkan risalah Rosulullah
“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
Al-Baqoroh (260) yang memberikan penjelasan rinci tentang kekuasaan Allah.
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Mendidik melalui perumpamaan Qur’ani dan Nabawi
Perumpamaan Qur’ani nabawi ini tidak hanya menunjukkan ketinggian karya seni hanya ditunjukkan untuk meraih keindahan balagho semata, tetapi memiliki tujuan psikologis edukatiuf, diantaranya memudahkan pemahaman tentang konsep untuk memahami makna spiritual suatu perkara, mempengaruhi emosi secara konsep sejalan dengan konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka perasaan ketuhanan, membina akal untuk terbiasa berfikir secara valit dan analogis, mampu menciptakan motivasi yang menggerakkan mental dan emosional seseorang. Misalnya dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 17 tentang kemukjizatan balaghohnya.
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
Mendidik melalui keteladanan
Dalam sebuah pendidikan untuk membentuk kepribadian dasar siswa diperlukan sebuah figur teladan sebagaimana QS. Al-Ahzab (21)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.
Dalam ayat tersebut potret tokoh panutan bagi umat. Kemudian dalam pendidikan diperlukan pentingnya sosok panutan sebagaimana panutan tersebut beperilaku seperti sunnah nabi.
Mendidik melalui aplikasi dan pengamalan
Agama Islam adalah agama yang realis bukan agama yang irasional yang mengetengahkan kjonsep-konsep abstrak yang menjadi sulit difahami oleh penganutnya. Dalam sistem pendidikan pengajaran pendidikan agama Islam harus sesuai dengan apa yang diinginkan oleh agama itu sendiri. Yaitu melalui praktek dan perbuatan. Sedangkan nabi sendiri ketika membina para sahabat menggunakan metode praktek langsung, misalnya ketika mengajarkan sholat beliau memimpin langsung para sahabat dari atas mimbar, sementara para sahabat mejadi makmum dibelakang beliau.
Mendidik melalui nasihat
Pendidikan melalui nasihat ini tertuang dalam QS. Al-Luqman (13-19) dan QS An-Nahl (125)
Mendidik melalui Targhib wa Tarhib
Model pendidikan Islam ini didasarkan atas perkara yang memang telah allah ciptakan dalam diri manusia, yaitu kecintaan terhadap kelezatan, kenikmatan, kemewahan, kehidupan yang lestari, serta ketakutan terhadap kepedihan, kecelakaan, dan tempat kemballi yang buruk. Seperti yang tertuang dalam QS. Maryam (70-72) dan QS Az-Zumar (15-16)
c.Interaksi Edukatif Guru-Murid
Hal ini disebutkan dalam QS. Al-Kahfi (70-78), QS. Fhusilat (33-34), dan lain-lain.
d.Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan yang dimaksud di sini adalah segala tempat yang dapat menunjang keberlangsungan proses belajar mengajar tersebut. Seperti, lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Dalam memahami lingkungan tersebut tertunag dalam QS. Al-Hadid (27)
“Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan Rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang- orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah. Padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik”.
5. Alasan Umat Islam Menjadi Yang Terbelakang Dalam Bidang Pendidikan Dengan Solusi Dalam Prespektif Filsafat Pendidikan
Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdur Rahman Mas’ud dalam pengantar buku yang ditulis oleh Tobroni, menyebutkan bahwa kemunduran umat Islam sangat terkait erat dengan tradisi filsafat, yang dimulai pada abad 7 samapai 11 M Islam menunjukkan kehebatannya dalam pencapian ilmu baik agama atau nonagama. Islam yang dibawa ole nabi Mujhammad saw lahir belakangan tetapi menguasai dunia terlebih dahulu meninggalkan Kristen dibelakang pada rentan abad ini muncullah para pemikir dan intelektual Islam yang amat begitu melegenda dan membawa umat Islam ke dalam peradaban yang lebih maju, karena para tokoh tersebut telah berafilisiasi dalam intelektualnya dengan filsafat (pintu ijtihad terbuka lebar). Akan tetapi setelah abad ke 11 banyak para tokooh Islam menganggap pintu ijtihad telah tertutup (tak berfilsafat). Dan terjadinya degradasi pemikiran pada saat itu. Sehingga mengakibatkan Islam tertindas dengan keadaan itu. Kemudian terjadinya peralihan secara besar-besaran sistem politik Islam yang berakibat pada hancurnya kerajaan-kerajaan Islam yang telah menguasai dunia.
Menurut John W bahwa kemunduran Islam itu lebih disebabkan oleh aspek sosial politik dan hal ini tercermin dari runtuhnya daulah di Andalusia yang merupakan pusat studi ilmu pengetahuan di dunia. Kemudian terjadinya perang Salib yang begitu merugikan dunia pendidikan dlam Islam. Dana hal ini ditandai dengan tragedi mahadahsat yaitu penghancuran perpustakaan Islam.
Menurut Suparlan Suhartono bahwa kemunduran Islam dikarenakan muncul imperium baru yakni, Barat yang telah berhasil memasukkan ide-idenya secara sengit (Liberalisme, sekulerisme, dan lain-lain). Dan menjadikan kondisi internal Islam terjadi krisis multidimensional seperti kemunafikan politik kebangkrutan ekonomi, ketidakadilan hokum, kehancuran pendidikan dan kebudayaan dan masyarakatnya terlalu idealis. Dan dapat disimpulkan dengan kejadian tersebut umat Islam cenderung terpecah belah.
SolusiUntuk mengembalikan kejayaan Islam salah satunya adalah memperbaiki sistem pendidikan khususnya pendidikan Islam. Dimana dalam pengemabalian sistem pendidikan ini tidak tergantung pada sistem pendidikan yang lama, namun terdapat inovasi-inovasi yang dapat membangkitkan semangat untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam masa krisis intelek ini. Selanjutnya ketika Islam menginginkan kejayaan sesuai dengan keadaan awal, maka pendidikan Islam harus mampu mengorek secara riil sesuai dengan, pertama, peradigma filosofis yakni mencari model-model yang ideal dalam pendidikan Islam, sehingga mampu mengarah kepada tradisi filsafat yang hidup pada abad 7-11 M. Kedua, paradigma theologis yakni suatu pendidikan yang mempu mengejawantahkan tentang nilai, norma, dan ajaran Islam tentang pendidikan itu sendiri. Ketiga, paradigma spiritualitas, kemajuan peradaban yang dimotori oleh kemajuan scien dan teknologi, konsekuensi dari pendidikan sebagai education as growth dan education as Social fungcion. Mengatakan bahwa fungsi pendidikan yang utama adalah, pendidikan adalah human investment.
Referensi
1. Tafsir, Ahmad. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Rosda karya
2. Tobroni. 2008. Pendidikan Islam Paradigma Teologis, Filosofis dan Spiritualitas. Malang: UMM Press.
3. Boy Pradana ZTF.2003. Filsafat Islam. Malang: UMMpress.
4. O’Neil F Wililliam, Education Ideologies: Contemporary Exppressions of Educational Philosopies (Amerika Serikat:Goodyear Pubhlising Company:1981). Alih bahasa Omi Intan Naomi, 2002. Ideologi-ideologi Pendidikan. Pustaka pelajar:Yogyakarta
5. Suparlan, Suhartono. 2006. Filsafat Pendidikan. Jogyakarta: Ar-Ruzz.
6. An-Nahlawi, Abdurrahman. 1995. Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press.
7. Hanafi Ahmad. 1990. Pengantar Filsafat Islam. Bulan Bintang: Jakarta.
8. Prasetya.1999. Filsafat Pendidikan. Pustaka Setia: Bandung.
9. Zuhairini. dkk.1995. Filsafat Pendidikan Islam. Bumi Aksara: Jakarta.
10. Nata Abuddin.1997. Filsafat Pendidikan Islam, Logos Wacana Ilmu: Jakarta.
Label:
Filsafat,
PEMIKIRAN KRITIS
18:02
Rekonstruksi Nalar pendidikan Islam*
Abstraksi
Proses penciptaan Intelektual itu berlangsung lama, sulit, penuh dengan tantangan, melalui proses maju, mundur, bubar dan membentik kembali…(Antonio gramsci)
Epistimologi pendidikan dinegara-negara Eropa (Inggris, Prancis, Jerman, Belanda) adalah hal yang menarik dengan adanya akulturasi Intelektual akibat pengaruh Revolusi prancis dan Revolusi Industri telah mengubah wajah peradaban Eropa menjadi peradaban yang maju. Mulai abad kebangkitan di abad ke-16 telah terjadi disposisi filsafat pendidikan yang secara umum berhaluan Empirisme, Rasionalisme, Positivisme, dan saintisme. Kemudian muncul berbagai aliran akibat pergumulan paradigma tersebut yaitu Empirisme, Bahafiorisme (filosofis), empirisme (filosofis), empirisme biologis, pragmatisme, Instrumentalisme, eksperimentalisme, hidonisme piskologis, reinforcement, Relativisme Budaya, Demokrasi social, Subjektivisme Substansial, liberasionisme. Epistimologi pendidikan dinegara-negara Asia (Jepang, Cina, dan beberapa Negara ditimur tengan)memiliki corak pendidikan yang bernalar.
Dalam kontek pendidikan keindonesiaan lessn learned dari Negara-negara diatas menjadi dasar rekontruksi filsafat, epistimologi, ontology, aksiologi pendidikan yang direduksi pada perubahan pengembangan dasar pengetahuan pendidikan (dari Phataisme rasional menjadi kritik advokativ, manajemen pendidikan (dari subyek-subyek menjadi partisipatoris intrasubjektif), hubungan sekolah dan masyarakat (dari individualis menjadi phatnership), Kurikulum(dari penekanan vertical menjadi sinergi vertical-horizontal), pola pembelajaran (dari intimidativ menjadi partisipatoris dan kreaktif), tujuan pembelajaran(menjadi lebih mandiri, merdeka, kritis, dan peka sosial), isi pembelajaran (lebih komunikatif), metode pembelajaran (dari dokmatis menjadi dialogis intra subjektif), pendekatan pembelajaran (dari pedagogis dokmatis menjadi andragogis dialogis), evaluasi pembelajarannya (lebih partisipatoris dan komperehensif), pengelolaan media pembelajaran (lebih tepat guna )dan kehidupan sosialnya berkeadilan
Kata kunci: Epistimologi, Barat, Rasionalisme, Empirisme, Positivisme, Saintisme, Pendidikan Islam, Kurikulum, Partisipatoris, Komperehensif
Pendahuluan
Pendidikan merupakan sistem untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya . Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang.
Dengan demikian, "pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia"
Dalam konteks pendidikan kemajuan yang terjadi dinegara-negara barat tidak terlepas dari pendidikan, maka pendidikan diindonesia harus sadar akan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat baik sosial maupun cultural. Untuk itu permasalahan mendasar ketika ingin menyetarakan kualitas pendidikan setra dengan pendidikan di negara-negara eropa, (Jerman, Belanda, Prancis, Inggris dll) dan beberapa negara di Asia (Jepang, Timur Tengah, Cina) maka pendidikan di Indonesia adalah bagaimana pendidikan mampu menghadirkan disain atau konstruksi wacana pendidikan yang relevan dengan perubahan masyarakat. Kemudian disain wacana pendidikan tersebut dapat dan mampu ditranspormasikan atau diproses secara sistematis dalam masyarakat .
Persoalan pertama yang harus direkonstruksi bersifat filosofis, yang kedua lebih bersifat metodologis. Pendidikan perlu menghadirkan suatu konstruksi wacana pada dataran filosofis, wacana metodologis, dan juga cara menyampaikan atau mengkomunikasikannya. Akan tetapi ketika pendidikan diarahkan pada peradaban modern, yang perlu diselesaikan terdahulu adalah persoalan-persoalan teoritis internal pendidikan yaitu (1) persoalan dikotomik, (2) tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, (3) persoalan kurikulum atau materi. Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu dengan lainnya.
Ketika persoalan itu dimunculkan mungkin ada benarnya apa yang telah dikatakan Francis Fukuyama dalam buku kontroversional, The End Of HistorY and The Last man (1992), bahwa sejarah telah berakhir karena demokrasi liberal barat telah mengunggguli komunisme yang ditandai dengan runtuhnya uni soviet. Ini merupakan sejarah panjang pembentukan nalar filsafat moderen negara-negara eropa, yang saat ini boleh menjadi corong dan guru..
Permasalahan pendidikan yang ditawarkan yang mana melalui perjalanan panjang menuju nalar moderen yang digagas oleh dedengkot filosof barat untuk memajukan pendidikannya dapat ditelusuri seperti dalam artikel “Modernity versus postmodernity”, Jurgan Habermas menjelaskan istilah “moderen” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut era baru (New ege), yang berfungsi untuk membedakan dengan masa lalu (the ancient).
Artinya mederen itu tidak semata-mata hanya ditandai dengan munculnya renaissance atau enlightenment tetapi itu yang memulai, di negara barat seperti Prancis, Inggris, dan Jerman, AS dll.. Bertrand Russel mengungkapkan ada dua hal yang terpenting yang menandai sejarah pendidikan modern di barat yakni runtuhnya otoritas gereja dan menguatnya otoritas sains (rasional).
Ada beberapa tesis yang bisa diambil untuk memahami peristiwa kemajuan revolusi ilmiah di Barat. Pertama, revolusi ilmiah selalu dikaitkan dengan proses sekulerisasi atau tercabutnya kekuasaan agama dalam system social politik yang memungkinkan sain lepas dari kungkungan institusi kungkungan agama. Di barat telah tercatat dalam sejarah pada Abad ke 16 dan 17, ketika itu era Renaissance, agama-sebagai institusi yang sangat dominan dan hegemoni di eropa dikala itu-mengalami perubahan radikal dalam posisinya sebagai pemegang otoritas penuh segala bentuk kebenaran. Tetapi lepasnya sains dari otoritas agama tidak menjadikan indepindensi.
Disisi lain , dalam hal perkembangan pengetahuan sekuler dan skeptisme sudah menjadi landasan tradisional ilmu pengetahuan, wancana ilmu pengetahuan yang menjadi topic utama pada zaman kebangkitan pendidikan dibarat. Pada abad ke-17 topik utama adalah persoalan epistimologi .
. William melanjutkan dan menguraikan dari dasar filosofis epistimologis pendidikan di Inggris (Eropa) , yaitu Empirisme, Bahafiorisme (filosofis), empirisme (filosofis), empirisme biologis, pragmatisme, Instrumentalisme, eksperimentalisme, hidonisme piskologis, reinforcement, Relativisme Budaya, Demokrasi social, Subjektivisme Substansial, liberasionisme, liberalisme pendidikan .
Kemudian Wiliam mengungkapkan juga dalil-dalail pokok pendikan
a. seluruh hasil kegiatan belajar adalah pengetahuan melalui pengamalan personal
b. seluruh hasil kegiatan belajar bersifat subjektif dan selektif .
c. Seluruh hasil kegiatan belajar beraakar pada keterlibatan pengertian indrawi .
d. Seluruh hasil –hasil belajar didaari oleh proses pemecahan masalah secara aktif dalam pola” coba benar-salah” atau (trial and eror)
e. Cara belajar yang baik diatur oleh perintah-perintah eksperimantal yang bercirikan metode ilmiah
f. Pengetahuan yang terbaik adalah yang paling selaras dengan (atau mungkin derdasarkan) pembuktian ilmiuah yang dianggap benar sebelumnya
g. Kegiatan belajar diarahkan dan dikendalikan oleh konsekuensi –konsekuensi emosional dari perilaku
h. Sifat-sifat hakiki dan isi pengetahuan social mengarahkan dan mengendalikan sifat-sifat haiki dan isi pengalaman personal
i. Penyelidikan kritis yang mempunyai arti penting hanya bisa berlangsung dalam masyarakat yang demoratis dan memiliki komitmen terhadap ungkapan umum pemikiran dan perasaan individual.
Itulah dalil dalail yang ditawarkan William kala berbicara pendidikan di barat. Yang kemudian bisa direduksi ke dalam perubahan pendidikan di Indonesia, baik dari aspek filsafatnya, epistimologinya yang kemudian akan merubah manajemen pendidikan (dari subyek-subyek menjadi partisipatoris intrasubjektif), hubungan sekolah dan masyarakat (dari individualis menjadi phatnership), Kurikulum(dari penekanan vertical menjadi sinergi vertical-horizontal), pola pembelajaran (dari intimidativ menjadi partisipatoris dan kreaktif), tujuan pembelajaran(menjadi lebih mandiri, merdeka, kritis, dan peka sosial), isi pembelajaran (lebih komunikatif), metode pembelajaran (dari dokmatis menjadi dialogis intra subjektif), pendekatan pembelajaran (dari pedagogis dokmatis menjadi andragogis dialogis), evaluasi pembelajarannya (lebih partisipatoris dan komperehensif), pengelolaan media pembelajaran (lebih tepat guna )dan kehidupan sosialnya berkeadilan.
Meng-Eropa-kan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam, suatu pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan, danpendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam [Syed Sajjad Husain dan Syed AliAshraf, 1986 : 2], atau "Pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah [Abdurrahman an-Nahlawi, 1995 : 26]. Pendidikan Islam bukan sekedar "transfer of knowledge" ataupun "transfer of training", ....tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan; suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan, Pendidikan Islam suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Pendidikan Islam dalam kontek kekinian dan yang akan datang haus menjadi inisiator peradaban yang mana peradaban itu sendiri sebagaimana pendapat Alvin Tofler dalam bukunya The Third Wave (1980) yang bercerita tentang peradaban manusia, yaitu; (1) perdaban yang dibawa oleh penemuan pertanian, (2) peradaban yang diciptakan dan dikembangkan oleh revolusi industri, dan (3) peradaban baru yang tengah digerakan oleh revolusi komunikasi dan informasi.
Perubahan tersebesar yang diakibatkan oleh gelombang ketiga adalah, terjadinya pergeseran yang mendasar dalam sikap dan tingkah laku masyarakat . Salah satu ciri utama kehidupan di masa sekarang dan masa yang akan datang adalah cepatnya terjadi perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Banyak paradigma yang digunakan untuk menata kehidupan, baik kehidupan individual maupun kehidupan organisasi yang pada waktu yang lalu sudah mapan, kini menjadi ketinggalan zaman (Djamaluddin Ancok, 1998: 5). Secara umum masyakarat modern adalah masyarakat yang proaktif, individual, dan kompetitif.
Maka dari itu pendidikan Islam Perlu di eropakan yakni diselesaikan persoalan-persoalan umum internal pendidikan Islam yaitu (1) persoalan dikotomik, (2) tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, (3) persoalan kurikulum atau materi. Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu dengan lainnya.
Selain itu perlunya akselarasi konsep pendidikan modern (konsep baru), yaitu ; pendidikan menyentuh setiap aspek kehidupan peserta didik, pendidikan merupakan proses belajar yang terus menerus, pendidikan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan pengalaman, baik di dalam maupun di luar situasi sekolah, pendidikan dipersyarati oleh kemampuan dan minat peserta didik, juga tepat tidaknya situasi belajar dan efektif tidaknya cara mengajar (Dimyati Machmud, 1979 : 3). Pendidikan pada masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak ke arah modern (modernizing), seperti masyarakat Indonesia, pada dasarnya berfungsi memberikan kaitan antara anak didik dengan lingkungan social kulturalnya yang terus berubah dengan cepat.
Shipman (1972 : 33-35) yang dikutip Azyumardi Azra bahwa, fungsi pokok pendidikan dalam masyarakat saat ini dan yang akan datang perlu dibangun atas tiga bagian : (1) sosialisasi, (2) pembelajaran (schooling), dan (3) pendidikan (education). Pertama, sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan adalah wahana bagi integrasi anak didik ke dalam nilai-nilai kelompok atau nasional yang dominan. Kedua, pembelajaran (schooling) mempersiapkan mereka untuk mencapai dan menduduki posisi social ekonomi tertentu dan, karena itu, pembelajaran harus dapat membekalai peserta didik dengan kualifikasi-kualifikasi pekerjaan dan profesi yang akan membuat mereka mampu memainkan peran sosial-ekonomis dalam masyarakat. Ketiga, pendidikan merupakan "education" untuk menciptakan kelompok elit yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar bagi kelanjutan program pembangunan"
Selain itu ini nampaknya pendidikan Islam harus menyiapkan sumber daya manusia yang lebih handal yang memiliki kompotensi untuk hidup bersama dalam era global. Menurut Djamaluddin Ancok "salah satu pergeseran paradigma adalah paradigma di dalam melihat apakah kondisi kehidupan di masa depan relatif stabil dan bisa diramalkan (predictability). Dan saat ini semakin sulit untuk melihat adanya stabilitas yang normal Apa yang terjadi di depan semakin sulit untuk diprediksi karena perubahan menjadi tidak terpolakan dan tidak lagi bersifat linier". Maka, pendidikan Islam sekarang ini disainnya tidak lagi bersifat linier tetapi harus didisan bersifat lateral dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat dan tidak terpolakan. Untuk itu, lebih lanjut Djamaluddin Ancok yang mengutip Hartanto : 1997: Hartanto, Raka & Hendroyuwono, 1998, mengatakan bahwa pendidikan (termasuk pendidikan Islam) harus mempersiapkan empat kapital yang diperlukan yakni kapital intelektual, kapital sosial, kapital lembut, dan kapital spritual.
Tantangan ini tidak muda untuk penyelesaiannya, tidak seperti membalik telapak tangan. Untuk itu, pendidikan Islam sangat perlu mengadakan perubahan atau mendesain ulang konsep, kurikulum dan materi, fungsi dan tujuan lembaga-lembaga, proses, agar dapat meneuhi tuntatan perubahan yang semakin cepat.
Kesimpulan
Pendidikan di Indonesia harus belajar dari peradaban barat dalam hal ini untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia, baik dari segi filsafatnya, epistimologinya, ontologinya, aksiologinya. Dan khusus untuk pendidikan Islamharus didisain untuk dapat membantu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan untuk bekerja lebih produktif sehingga dapat meningkatan kerja lulusan pendidikan di masa datang. Selain itu perlu disain pendidikan Islam yang tidak hanya bersifat linier saja, tetapi harus bersifat lateral dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat. Pendidikan Islam harus mengembangkan kualitas pendidikannya agar memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang selalu berubah-berubah. Lembaga-lembaga pendidikan Islami harus dapat menyiapkan sumber insani yang lebih handal dan memiliki kompotensi untuk hidup bersama dalam ikatan masyarakat modern
DAFTAR PUSTAKA
Prasetya, 2000. Filsafat Pendidikan, Pustaka Setia:Bandung.
Titus, Smith, Nolan.1996. Persoalan-persoalan Filsafat, Bulan Bintang: Jakarta.
Ali Saifullah .1998 Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional: Surabaya
Zuhairini..1995. Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara: Jakarta.
Abuddin Nata, 1995 .Filsafat Pendidikan Islam, Logos Wacana Ilmu; Jakarta
Ahmad Tafsir,2008.Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, RemajaRosdakarya ;Bandung.
________________,2006. Filsafat pendidikan Islam,Rosdakarya:Bandung
Suhartono suparlan.2006.Filsafat Pendidikan, Ar-Ruzz Media ; Yogyakarta.
O’neil Wiliam.intan Omi (terj).2001. Idologi-ideologi pendidikan, Pustaka pelajar :Yogyakarta
Azra azumardi, 1998. esai-esai Intelektual Muslim pendidikan Islam, Logos; Ciputat
Rahardja Mudjia,2006, Quo vadis pendidikan Islam,UINPress;Malang.
Ar-Razzidin, Nizar Samsul.2005. Filsafat pendidikan Islam,CiputatPress ; Ciputan .
Ahmad Syafi'i Ma'arif. 1991 Pemikiran tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, DalaPendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, Editor : Muslih Usa, Tiara Wacana:Yogyakarta.
M.Rusli Karim . 1991.Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, editor, Muslih Usa, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Paulo Freire,dkk..1999 Menggugat Pendidikan Fundamental Konservatif Liberal Anarkis, Terj., Omi Intan Naom Pustka Pelajar: Bandung.
*Arief Sugianto tugas MK PPI
aktifis FORSIFA Dan Jurnalis Koran Kampus Bestari UMM
Proses penciptaan Intelektual itu berlangsung lama, sulit, penuh dengan tantangan, melalui proses maju, mundur, bubar dan membentik kembali…(Antonio gramsci)
Epistimologi pendidikan dinegara-negara Eropa (Inggris, Prancis, Jerman, Belanda) adalah hal yang menarik dengan adanya akulturasi Intelektual akibat pengaruh Revolusi prancis dan Revolusi Industri telah mengubah wajah peradaban Eropa menjadi peradaban yang maju. Mulai abad kebangkitan di abad ke-16 telah terjadi disposisi filsafat pendidikan yang secara umum berhaluan Empirisme, Rasionalisme, Positivisme, dan saintisme. Kemudian muncul berbagai aliran akibat pergumulan paradigma tersebut yaitu Empirisme, Bahafiorisme (filosofis), empirisme (filosofis), empirisme biologis, pragmatisme, Instrumentalisme, eksperimentalisme, hidonisme piskologis, reinforcement, Relativisme Budaya, Demokrasi social, Subjektivisme Substansial, liberasionisme. Epistimologi pendidikan dinegara-negara Asia (Jepang, Cina, dan beberapa Negara ditimur tengan)memiliki corak pendidikan yang bernalar.
Dalam kontek pendidikan keindonesiaan lessn learned dari Negara-negara diatas menjadi dasar rekontruksi filsafat, epistimologi, ontology, aksiologi pendidikan yang direduksi pada perubahan pengembangan dasar pengetahuan pendidikan (dari Phataisme rasional menjadi kritik advokativ, manajemen pendidikan (dari subyek-subyek menjadi partisipatoris intrasubjektif), hubungan sekolah dan masyarakat (dari individualis menjadi phatnership), Kurikulum(dari penekanan vertical menjadi sinergi vertical-horizontal), pola pembelajaran (dari intimidativ menjadi partisipatoris dan kreaktif), tujuan pembelajaran(menjadi lebih mandiri, merdeka, kritis, dan peka sosial), isi pembelajaran (lebih komunikatif), metode pembelajaran (dari dokmatis menjadi dialogis intra subjektif), pendekatan pembelajaran (dari pedagogis dokmatis menjadi andragogis dialogis), evaluasi pembelajarannya (lebih partisipatoris dan komperehensif), pengelolaan media pembelajaran (lebih tepat guna )dan kehidupan sosialnya berkeadilan
Kata kunci: Epistimologi, Barat, Rasionalisme, Empirisme, Positivisme, Saintisme, Pendidikan Islam, Kurikulum, Partisipatoris, Komperehensif
Pendahuluan
Pendidikan merupakan sistem untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya . Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang.
Dengan demikian, "pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi baru pemuda-pemudi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri tapi juga sekaligus tidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia"
Dalam konteks pendidikan kemajuan yang terjadi dinegara-negara barat tidak terlepas dari pendidikan, maka pendidikan diindonesia harus sadar akan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat baik sosial maupun cultural. Untuk itu permasalahan mendasar ketika ingin menyetarakan kualitas pendidikan setra dengan pendidikan di negara-negara eropa, (Jerman, Belanda, Prancis, Inggris dll) dan beberapa negara di Asia (Jepang, Timur Tengah, Cina) maka pendidikan di Indonesia adalah bagaimana pendidikan mampu menghadirkan disain atau konstruksi wacana pendidikan yang relevan dengan perubahan masyarakat. Kemudian disain wacana pendidikan tersebut dapat dan mampu ditranspormasikan atau diproses secara sistematis dalam masyarakat .
Persoalan pertama yang harus direkonstruksi bersifat filosofis, yang kedua lebih bersifat metodologis. Pendidikan perlu menghadirkan suatu konstruksi wacana pada dataran filosofis, wacana metodologis, dan juga cara menyampaikan atau mengkomunikasikannya. Akan tetapi ketika pendidikan diarahkan pada peradaban modern, yang perlu diselesaikan terdahulu adalah persoalan-persoalan teoritis internal pendidikan yaitu (1) persoalan dikotomik, (2) tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, (3) persoalan kurikulum atau materi. Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu dengan lainnya.
Ketika persoalan itu dimunculkan mungkin ada benarnya apa yang telah dikatakan Francis Fukuyama dalam buku kontroversional, The End Of HistorY and The Last man (1992), bahwa sejarah telah berakhir karena demokrasi liberal barat telah mengunggguli komunisme yang ditandai dengan runtuhnya uni soviet. Ini merupakan sejarah panjang pembentukan nalar filsafat moderen negara-negara eropa, yang saat ini boleh menjadi corong dan guru..
Permasalahan pendidikan yang ditawarkan yang mana melalui perjalanan panjang menuju nalar moderen yang digagas oleh dedengkot filosof barat untuk memajukan pendidikannya dapat ditelusuri seperti dalam artikel “Modernity versus postmodernity”, Jurgan Habermas menjelaskan istilah “moderen” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut era baru (New ege), yang berfungsi untuk membedakan dengan masa lalu (the ancient).
Artinya mederen itu tidak semata-mata hanya ditandai dengan munculnya renaissance atau enlightenment tetapi itu yang memulai, di negara barat seperti Prancis, Inggris, dan Jerman, AS dll.. Bertrand Russel mengungkapkan ada dua hal yang terpenting yang menandai sejarah pendidikan modern di barat yakni runtuhnya otoritas gereja dan menguatnya otoritas sains (rasional).
Ada beberapa tesis yang bisa diambil untuk memahami peristiwa kemajuan revolusi ilmiah di Barat. Pertama, revolusi ilmiah selalu dikaitkan dengan proses sekulerisasi atau tercabutnya kekuasaan agama dalam system social politik yang memungkinkan sain lepas dari kungkungan institusi kungkungan agama. Di barat telah tercatat dalam sejarah pada Abad ke 16 dan 17, ketika itu era Renaissance, agama-sebagai institusi yang sangat dominan dan hegemoni di eropa dikala itu-mengalami perubahan radikal dalam posisinya sebagai pemegang otoritas penuh segala bentuk kebenaran. Tetapi lepasnya sains dari otoritas agama tidak menjadikan indepindensi.
Disisi lain , dalam hal perkembangan pengetahuan sekuler dan skeptisme sudah menjadi landasan tradisional ilmu pengetahuan, wancana ilmu pengetahuan yang menjadi topic utama pada zaman kebangkitan pendidikan dibarat. Pada abad ke-17 topik utama adalah persoalan epistimologi .
. William melanjutkan dan menguraikan dari dasar filosofis epistimologis pendidikan di Inggris (Eropa) , yaitu Empirisme, Bahafiorisme (filosofis), empirisme (filosofis), empirisme biologis, pragmatisme, Instrumentalisme, eksperimentalisme, hidonisme piskologis, reinforcement, Relativisme Budaya, Demokrasi social, Subjektivisme Substansial, liberasionisme, liberalisme pendidikan .
Kemudian Wiliam mengungkapkan juga dalil-dalail pokok pendikan
a. seluruh hasil kegiatan belajar adalah pengetahuan melalui pengamalan personal
b. seluruh hasil kegiatan belajar bersifat subjektif dan selektif .
c. Seluruh hasil kegiatan belajar beraakar pada keterlibatan pengertian indrawi .
d. Seluruh hasil –hasil belajar didaari oleh proses pemecahan masalah secara aktif dalam pola” coba benar-salah” atau (trial and eror)
e. Cara belajar yang baik diatur oleh perintah-perintah eksperimantal yang bercirikan metode ilmiah
f. Pengetahuan yang terbaik adalah yang paling selaras dengan (atau mungkin derdasarkan) pembuktian ilmiuah yang dianggap benar sebelumnya
g. Kegiatan belajar diarahkan dan dikendalikan oleh konsekuensi –konsekuensi emosional dari perilaku
h. Sifat-sifat hakiki dan isi pengetahuan social mengarahkan dan mengendalikan sifat-sifat haiki dan isi pengalaman personal
i. Penyelidikan kritis yang mempunyai arti penting hanya bisa berlangsung dalam masyarakat yang demoratis dan memiliki komitmen terhadap ungkapan umum pemikiran dan perasaan individual.
Itulah dalil dalail yang ditawarkan William kala berbicara pendidikan di barat. Yang kemudian bisa direduksi ke dalam perubahan pendidikan di Indonesia, baik dari aspek filsafatnya, epistimologinya yang kemudian akan merubah manajemen pendidikan (dari subyek-subyek menjadi partisipatoris intrasubjektif), hubungan sekolah dan masyarakat (dari individualis menjadi phatnership), Kurikulum(dari penekanan vertical menjadi sinergi vertical-horizontal), pola pembelajaran (dari intimidativ menjadi partisipatoris dan kreaktif), tujuan pembelajaran(menjadi lebih mandiri, merdeka, kritis, dan peka sosial), isi pembelajaran (lebih komunikatif), metode pembelajaran (dari dokmatis menjadi dialogis intra subjektif), pendekatan pembelajaran (dari pedagogis dokmatis menjadi andragogis dialogis), evaluasi pembelajarannya (lebih partisipatoris dan komperehensif), pengelolaan media pembelajaran (lebih tepat guna )dan kehidupan sosialnya berkeadilan.
Meng-Eropa-kan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam, suatu pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan, danpendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam [Syed Sajjad Husain dan Syed AliAshraf, 1986 : 2], atau "Pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah [Abdurrahman an-Nahlawi, 1995 : 26]. Pendidikan Islam bukan sekedar "transfer of knowledge" ataupun "transfer of training", ....tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan; suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan, Pendidikan Islam suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Pendidikan Islam dalam kontek kekinian dan yang akan datang haus menjadi inisiator peradaban yang mana peradaban itu sendiri sebagaimana pendapat Alvin Tofler dalam bukunya The Third Wave (1980) yang bercerita tentang peradaban manusia, yaitu; (1) perdaban yang dibawa oleh penemuan pertanian, (2) peradaban yang diciptakan dan dikembangkan oleh revolusi industri, dan (3) peradaban baru yang tengah digerakan oleh revolusi komunikasi dan informasi.
Perubahan tersebesar yang diakibatkan oleh gelombang ketiga adalah, terjadinya pergeseran yang mendasar dalam sikap dan tingkah laku masyarakat . Salah satu ciri utama kehidupan di masa sekarang dan masa yang akan datang adalah cepatnya terjadi perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Banyak paradigma yang digunakan untuk menata kehidupan, baik kehidupan individual maupun kehidupan organisasi yang pada waktu yang lalu sudah mapan, kini menjadi ketinggalan zaman (Djamaluddin Ancok, 1998: 5). Secara umum masyakarat modern adalah masyarakat yang proaktif, individual, dan kompetitif.
Maka dari itu pendidikan Islam Perlu di eropakan yakni diselesaikan persoalan-persoalan umum internal pendidikan Islam yaitu (1) persoalan dikotomik, (2) tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, (3) persoalan kurikulum atau materi. Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu dengan lainnya.
Selain itu perlunya akselarasi konsep pendidikan modern (konsep baru), yaitu ; pendidikan menyentuh setiap aspek kehidupan peserta didik, pendidikan merupakan proses belajar yang terus menerus, pendidikan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan pengalaman, baik di dalam maupun di luar situasi sekolah, pendidikan dipersyarati oleh kemampuan dan minat peserta didik, juga tepat tidaknya situasi belajar dan efektif tidaknya cara mengajar (Dimyati Machmud, 1979 : 3). Pendidikan pada masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak ke arah modern (modernizing), seperti masyarakat Indonesia, pada dasarnya berfungsi memberikan kaitan antara anak didik dengan lingkungan social kulturalnya yang terus berubah dengan cepat.
Shipman (1972 : 33-35) yang dikutip Azyumardi Azra bahwa, fungsi pokok pendidikan dalam masyarakat saat ini dan yang akan datang perlu dibangun atas tiga bagian : (1) sosialisasi, (2) pembelajaran (schooling), dan (3) pendidikan (education). Pertama, sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan adalah wahana bagi integrasi anak didik ke dalam nilai-nilai kelompok atau nasional yang dominan. Kedua, pembelajaran (schooling) mempersiapkan mereka untuk mencapai dan menduduki posisi social ekonomi tertentu dan, karena itu, pembelajaran harus dapat membekalai peserta didik dengan kualifikasi-kualifikasi pekerjaan dan profesi yang akan membuat mereka mampu memainkan peran sosial-ekonomis dalam masyarakat. Ketiga, pendidikan merupakan "education" untuk menciptakan kelompok elit yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar bagi kelanjutan program pembangunan"
Selain itu ini nampaknya pendidikan Islam harus menyiapkan sumber daya manusia yang lebih handal yang memiliki kompotensi untuk hidup bersama dalam era global. Menurut Djamaluddin Ancok "salah satu pergeseran paradigma adalah paradigma di dalam melihat apakah kondisi kehidupan di masa depan relatif stabil dan bisa diramalkan (predictability). Dan saat ini semakin sulit untuk melihat adanya stabilitas yang normal Apa yang terjadi di depan semakin sulit untuk diprediksi karena perubahan menjadi tidak terpolakan dan tidak lagi bersifat linier". Maka, pendidikan Islam sekarang ini disainnya tidak lagi bersifat linier tetapi harus didisan bersifat lateral dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat dan tidak terpolakan. Untuk itu, lebih lanjut Djamaluddin Ancok yang mengutip Hartanto : 1997: Hartanto, Raka & Hendroyuwono, 1998, mengatakan bahwa pendidikan (termasuk pendidikan Islam) harus mempersiapkan empat kapital yang diperlukan yakni kapital intelektual, kapital sosial, kapital lembut, dan kapital spritual.
Tantangan ini tidak muda untuk penyelesaiannya, tidak seperti membalik telapak tangan. Untuk itu, pendidikan Islam sangat perlu mengadakan perubahan atau mendesain ulang konsep, kurikulum dan materi, fungsi dan tujuan lembaga-lembaga, proses, agar dapat meneuhi tuntatan perubahan yang semakin cepat.
Kesimpulan
Pendidikan di Indonesia harus belajar dari peradaban barat dalam hal ini untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia, baik dari segi filsafatnya, epistimologinya, ontologinya, aksiologinya. Dan khusus untuk pendidikan Islamharus didisain untuk dapat membantu meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan untuk bekerja lebih produktif sehingga dapat meningkatan kerja lulusan pendidikan di masa datang. Selain itu perlu disain pendidikan Islam yang tidak hanya bersifat linier saja, tetapi harus bersifat lateral dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat. Pendidikan Islam harus mengembangkan kualitas pendidikannya agar memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang selalu berubah-berubah. Lembaga-lembaga pendidikan Islami harus dapat menyiapkan sumber insani yang lebih handal dan memiliki kompotensi untuk hidup bersama dalam ikatan masyarakat modern
DAFTAR PUSTAKA
Prasetya, 2000. Filsafat Pendidikan, Pustaka Setia:Bandung.
Titus, Smith, Nolan.1996. Persoalan-persoalan Filsafat, Bulan Bintang: Jakarta.
Ali Saifullah .1998 Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional: Surabaya
Zuhairini..1995. Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara: Jakarta.
Abuddin Nata, 1995 .Filsafat Pendidikan Islam, Logos Wacana Ilmu; Jakarta
Ahmad Tafsir,2008.Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, RemajaRosdakarya ;Bandung.
________________,2006. Filsafat pendidikan Islam,Rosdakarya:Bandung
Suhartono suparlan.2006.Filsafat Pendidikan, Ar-Ruzz Media ; Yogyakarta.
O’neil Wiliam.intan Omi (terj).2001. Idologi-ideologi pendidikan, Pustaka pelajar :Yogyakarta
Azra azumardi, 1998. esai-esai Intelektual Muslim pendidikan Islam, Logos; Ciputat
Rahardja Mudjia,2006, Quo vadis pendidikan Islam,UINPress;Malang.
Ar-Razzidin, Nizar Samsul.2005. Filsafat pendidikan Islam,CiputatPress ; Ciputan .
Ahmad Syafi'i Ma'arif. 1991 Pemikiran tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, DalaPendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, Editor : Muslih Usa, Tiara Wacana:Yogyakarta.
M.Rusli Karim . 1991.Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, editor, Muslih Usa, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Paulo Freire,dkk..1999 Menggugat Pendidikan Fundamental Konservatif Liberal Anarkis, Terj., Omi Intan Naom Pustka Pelajar: Bandung.
*Arief Sugianto tugas MK PPI
aktifis FORSIFA Dan Jurnalis Koran Kampus Bestari UMM
Label:
Filsafat
13:08
Rekonstruksi Nalar Filsafat Pendidikan Inggris dan Islam
Abstraksi
Tiada kekayaan yang lebih Utama dari pada Akal , tiada kepapaan yang lebih menyedihkan dari pada kebodohan , dan tiada warisan yang palaing baik dari pada Pendidikan (Ali bin Abi Thalib).
Proses penciptaan Intelektual itu berlangsung lama, sulit, penuh dengan tantangan, melalui proses maju, mundur, bubar dan membentik kembali…(Antonio gramsci)
Epistimologi pendidikan di Inggris adalah hal yang menarik dengan adanya akulturasi Intelektual akibat pengaruh Revolusi prancis dan Revolusi Industri telah mengubah wajah peradaban Eropa menjadi peradaban yang maju. Hal ini tidak lain karena tokoh intelektualnya mengadakan revolusi pemikiran yang semula Dogmatis menjadi rasionalis. Mulai abad kebangkitan di abad ke-16 telah terjadi disposisi filsafat pendidikan yang secara umum berhaluan Empirisme dan Rasionalisme, meskipun kedua ini salaing bertentangan tetapi menjadi filsafat pendidikan di Inggris. Kemudian muncul berbagai aliran akibat pergumulan dua paradigma tersebut yaitu Empirisme, Bahafiorisme (filosofis), empirisme (filosofis), empirisme biologis, pragmatisme, Instrumentalisme, eksperimentalisme, hidonisme piskologis, reinforcement, Relativisme Budaya, Demokrasi social, Subjektivisme Substansial, liberasionisme.
Filsafat pendidikan Islam dengan dasar Qur’an dan As-sunah dengan pendekatan rasional falsafi telah membawa peradaban maju, kemudian Hancur dan bangkit lagi. Dengan tokoh-tokohnya seperti Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Sina,ibnu khaldun,al-Ghazali, ikhwan As-Sifa. Telah membawa pendidikan Keranah yang lebih nyata.
Kata kunci: Epistimologi, Inggris,Rasionalisme, empirisme, pendidikan Islam
Pendahuluan
Filsafat berasal dari kata arab yang berhubungan erat dengan kata Yunani, bahkan memang asalnya dari kata Yunani yaitu, philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia; philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Definisinya, filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya dari segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli, dan bagi Aristoteles filsafat adalah ilmu yang mencari kebenaran pertama, segala yang maujud dan ilmu segala yang ada yang menunjukkan adanya penggerak pertama
Bagi Al-Farabi filsafat adalah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Al-Kindi berpendapat filsafat merupakan pengetahuan tentang hakekat segala sesuatu, dan ini mengandung teologi (al-rububiyah), ilmu tauhid, etika dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat Ibnu Sina mengaitkan filsafat dan kesempurnaan diri: filsafat adalah penyempurnaan jiwa manusia melalui pengkonsepsian hal ihwal dan penimbangan kebenaran-kebenaran teoritis dan praktis dalam batas-batas kemampuan manusia.
Dari berbagai keterangan di atas bisa dikatakan bahwa "filsafat" adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis, untuk mencari hakekat kebenaran sesuatu, baik dalam logika, etika maupun metafisik. Untuk itu studi falsafi mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi
Perjalanan Nalar Epistimologi Pendidikan di Inggris (Eropa)
Mungkin ada benarnya apa yang telah dikatakan Francis Fukuyama dalam buku kontroversional, The End Of HistorY and The Last man (1992), bahwa sejarah telah berakhir karena demokrasi liberal barat telah mengunggguli komunisme yang ditandai dengan runtuhnya uni soviet. Ini merupakan sejarah panjang pembentukan nalar filsafat moderen di eropa khususnya di Inggris.
Perjalanan panjang menuju nalar moderen yang digagas oleh dedengkot filosof Inggris untuk memajukan pendidikannya dapat ditelusuri seperti dalam artikel “Modernity versus postmodernity”, Jurgan Habermas menjelaskan istilah “moderen” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut era baru (New ege), yang berfungsi untuk membedakan dengan masa lalu(the ancient).[1]
Artinya mederen itu tidak semata-mata hanya ditandai dengan munculnya renaissance atau enlightenment[2] tetapi itu yang memulai, di Negara Eropa Prancis, Inggris, dan Jerman. Bertrand Russel mengungkapkan ada dua hal yang terpenting yang menandai sejarah pendidikan modern di Inggris atau di Eropa, yakni runtuhnya otoritas gereja dan menguatnya otoritas sains (rasional).[3]
Ada beberapa tesis yang bisa diambil untuk memahami peristiwa kemajuan revolusi ilmiah di Inggris. Pertama, revolusi ilmiah selalu dikaitkan dengan proses sekulerisasi atau tercabutnya kekuasaan agama dalam system social politik yang memungkinkan sain lepas dari kungkungan institusi kungkungan agama. Di Eropa demikian juga diInggris telah tercatat dalam sejarah pada Abad ke 16 dan 17, ketika itu era Renaissance, agama-sebagai institusi yang sangat dominant dan hegemoni di eropa dikala itu-mengalami perubahan radikal dalam posisinya sebagai pemegang otoritas penuh segala bentukkebenaran. Tetapi lepasnya sains dari otoritas agama tidak menjadikan indepindensi.[4]
Disisi lain , dalam hal perkembangan pengetahuan sekuler dan skeptisme[5]sudah menjadi landasan tradisional ilmu pengetahuan , wancana ilmu pengetahuan yang menjadi topic utama pada zaman kebangkitan pendidikan Filsafat di Inggris dan secara umum dieropa. Pada abad ke-17 topik utama adalah persoalan epistimologi[6].
Pernyataan pokok dalam bidang epistimologi adalah bagaimana manusia memeperoleh pengetahuan yang benar ? serta apa yang dimaksud dengan “kebenaran itu”? untuk menjawab pernyatan-pernyataan itu yang bercorak epistimologi in, maka dalam filsafat zaman awal kemajuan inggris yakni pada abad ke-17muncullah aliran filsafat yang memberikan jawaban berbeda, bahkan saling bertentangan. Alirantersebut adalah aliran empirisme dan Rasionalisme
. Tetapi sebelum membincang tentang dua aliran filsafat pendidikan tersebut perlu penulis kemukakan ulasan teori yang dirangkum dalam jalur penalaran di eropa dalam pandangan William bahwa nalar pendidikan di inggris didasari yang bernama system pengetahuan rasional, empirisme dan positivisme.
William melanjutkan dan menguraikan dari dasar filosofis epistimologis pendidikan di Inggris (Eropa)[7], yaitu Empirisme, Bahafiorisme (filosofis), empirisme (filosofis), empirisme biologis, pragmatisme, Instrumentalisme, eksperimentalisme, hidonisme piskologis, reinforcement, Relativisme Budaya, Demokrasi social, Subjektivisme Substansial, liberasionisme, liberalisme pendidikan.
Kemudian Wiliam mengungkapkan juga dalil-dalail pokok liberelisme pendidikan yang terjadi diInggris :
seluruh hasil kegiatan belajar adalah pengetahuan melalui pengamalan personal
seluruh hasil kegiatan belajar bersifat subjektif dan selektif[8].
Seluruh hasil kegiatan belajar beraakar pada keterlibatan pengertian indrawi[9] .
Seluruh hasil –hasil belajar didaari oleh proses pemecahan masalah secara aktif dalam pola” coba benar-salah” atau (trial and eror)
Cara belajar yang baik diatur oleh perintah-perintah eksperimantal yang bercirikan metode ilmiah
Pengetahuan yang terbaik adalah yang paling selaras dengan (atau mungkin derdasarkan) pembuktian ilmiuah yang dianggap benar sebelumnya
Kegiatan belajar diarahkan dan dikendalikan oleh konsekuensi –konsekuensi emosional dari perilaku
Sifat-sifat hakiki dan isi pengetahuan social mengarahkan dan mengendalikan sifat-sifat haiki dan isi pengalaman personal
Penyelidikan kritis yang mempunyai arti penting hanya bisa berlangsung dalam masyarakat yang demoratis dan memiliki komitmen terhadap ungkapan umum pemikiran dan perasaan individual.
Itulah dalil dalail yang ditawarkan William kala berbicara pendidikan Di Inggris yang telah terkontaminasi oleh racun rasional.
Kembali pada perbincangan tentang filsafat berepistimilogi rasional dan empirisme yang berpengaruh terhadap perkembangan di Eropa tetapi ketika berbicara tentang epistimilogi mana yang dijadikan dasar pendidikan di Inggris. Secara sepintas dua peradigma tadi rasionalisme dan empirisme bangunan berfikirnya berbeda dan saling menjauh. Tetapi, dalam epistimologi pendidikan di Inggris kedua paradigma tersebut secara kontinuitas memberi pengaruh terhadap perjalanan pendidikan di Inggris[10]. Dalam hal ini Karim(2009) melihat landasan Epistimologi peradaban barat[11] sebagai argument dalam menguraikan keterkaitan dua paradigma tersebut.
Rasionalisme[12]
Ren’t Descrates[13] adalah seorang filsof yang disinyalir sebadai pembuka gerbang moderen khususnya diinggris dan umumnya di eropa. Ia adalah seoerang pertama yang memiliki kapasias filosofi tinggi dan sangat dipengaruhi fisika dan astronomi baru[14]dia sendiri tokoh rasionalisme ren’t deskrates (1595-1650)[15] telah dianggap sebagai bapak rasionalisme moderen di inggris (barat)yang sampai saat ini masih dijadikan landasan pembangunan peradaban. Julukan itu tidak begitu berlebihan sebab sejak kelahiran Deskrates, kesadarannya betul-betul digumuli dalam filsafat.
Pemikiran Deskrates yang kemudian terkenal dengan jargon “Co Gito Ergo sum” yang sering didistilahkan dengan “metode kesangsian”yang digunakan untuk menemukan sebuah kepastian[16].
Empirisme.[17]
Empirisme dapat dikatakan sebagai doktrin yang meluas dalam pola pendidikan di Inggris yang mengatakan bahwa seleuruh pengetahuan harus dicarai dalam pengalaman yang berpandangan bahwa semua ide gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami . secara umum empirisme berlawanan dengan Rasionalisme.
Tokoh yang representative dalam gambaran relative aliran empirisme. David Hume (1711-1776)[18]ditangnnya lah empirisme manjadi radikal dengan metode sekeptismenya.
Dalam pandangan , yang bisa diketahui hanyalah persepsi dan bukanlah objek diluar diri kita, dalam duania pendidikan , system control dan evaluasi jamak digunakan oleh para guru terhadap peserta didik adalah metode induksi yaitu penilaian aktifitas danmemberlakukan secara universal terhadap seluruh siswa dengan hanya melihat kebiasaan mereka secara umum tanpa memeperhatikan secara lebih dan keragaman karakter mereka.
Rasionalisem maupun Empirisme Sebagai Filsafat fundamental yang mengarahkan gerak pendidikan di Inggris.
Bagan Landasan Epistimologi pendidikan Di Inggris[19][20]
Rasionalisme
Empirisme
Tokoh
Pemikiran
Tokoh
Pemikiran
plato
Pengetahuan, Ide, kebenaran akan lahir Innate/a priori
aristoteles
Kebenaran lahir setelah abstraksi bersentuhan langsung dengan objek dari Aposterotori ke Fenomena ke Abstraksi ke Objek
Arcesileus dan diogenes
Akibat masuknya hellenisme maka kedu tokoh ini dengan sekeptisisme dan sinisnya tidak menawarkan tesei apa pun.
Epikurus dan Zeno
Meskipun dipengaruhi paham hellen namun masih menaruh harapan pada ilmu pengetahuan sepanjang dapat memberi penjelasan yang naturalistic atas fenomena uyang dipercaya.
Ren’t Deskrates
Co gito ergo sum” metode kesangsian deskrates
Francis Bacon
Metode inklusi ; menarik kesimpilan dari umum ke khusus dari pengamatan yang khusus
Baruch de Spinoza
Memandang antributif identik dengan alam semesta
Thomas hobes
Kenyataan akhir adalah kenyataan indrawi menurut Hobes tologi bukan lah filsafat karena filsafat berbicara masalah lahiriah sehingga hanya empat saja ilmu yang dianggap sah yaiti geometri, Fisika, Etik, dan Politik
GW Von Libniz
Ada bentuk substansi yang berbentuk monad, monad substansi yang bukan kenyataan jasmani
David Hume
Substansi kumpulan persepsi sematakarena pikiran membuat artifisisal semata
Jhon locke
Dengan bertolak pada pengalaman ide-ide yang terjadi melalui proses pengindraan yang hasilnya disebut ide simplek
Demikian gambaran rancangan Epistimologi yang di jadikan dasar pendidikan di Inggris.
[1] Ali maskum dan luluk Yunan. Paradigma pendidikan Universal (Yogyakarta: Ericisod,2004), hal 24
[2] Ranaissence atau enlightenment ditandai dengan pertama, zaman ketika ilmu-ilmu dan teknologi berkembang , kedua munculnya gerakan –gerakan intelektual yang kritis terhadapp mitos , metafisika,tradisi, otoritas, dogmatisme dan seterusnya
[3] Bartrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, terj Sigit jatmiko(Dkk) (Yogyakarta : pustaka pelajar, 2002), hal. 645
[4] Yasid, sains dan Islam
[5] Sekuler : sebuah pemikiran yang dimulai dari kritik kebebasan terhadap otoritarianisme gereja (symbol agama) di eropa (Inggris), tetapi kemudian terlanjur dengan pemisahan dan distorsi hingga menjadi biner oposisi.
[6] Epistimologi : hal atau katalis yang membicarakan sumber pengetahuan dan bagai mana cara memperolehnya, misalkan pembahasan rasionalisme, empirisme, positivisme,dll.
[7] Dari uraian ini kiat akan melihat bahwa gelombang perkembangan pendidikan di Inggris pada umumnya dipengaruhi oleh semangat positivisme yang rasional, empirisme dan positivtikdengan pendekatan saintifik dan jauhnya semangat intuisi keagamaan.
[8] Istilah personal”,”subjektif”,”selektif” istilah ini akan mewakili kebebasan individu yang banyakmuncul dengan filsafat moderen yang Rasional(Co gito ergo sum), sedangkan istilah “ selektif” mewakili kompodsisi individu yang akan melahirjkan penegasan akan diri dan panegasan yang lain, sebuah rasio yang kehilangan sisi humanitasnya.
[9] Selain rasio indrawi jug amenjadi alat alat kepercayaanuntuk mendefisinikan suatu kebenaran, indrawi merupakan turunan dari aliran filsafat empirisme yang merupakan lawan dari Rasionalisme
[10] Muhammad karim, pendidikan kritis transformative, (Yogyakarta: Ar-Ruzz media, 2009)
[12] Rasionalisme sebuah paradigma yang mempercayai adanya ide-ide bawaan yang bersifat substansi rasio yang mendefisisnikan dan memformulasikan kebenaran.
[13] Ren’t Deskrates Filosof kebangsaan inggris, ayahnya adalah seorang ketua parlemen inggris yang memeiliki tangah yang cukup luas . ia adalah anak yang cukup cerdik, seorang pembisnis , tentara dalam bukunya Sejarah filsafat barat , terj Sigit jatmiko dkk.(Yogyakarta;pustaka pelajar,2002), hal.732.
[14] Dudi Hariman, Filsafat moderen, (Jakarta;Gramedia pustaka,2004),hal.37
[15] ejarah filsafat barat , terj Sigit jatmiko dkk.(Yogyakarta;pustaka pelajar,2002), hal.733
[16] Sedang dalam islam Al-Ghazali mempunyai “metode keraguan Ghazali” yang sering mnengatakan “ keraguanlah yang mengantarkan pada kebenaran, barangsiapa yang tidak bisa maju maka dia tidak memandang, barang siap[a tidak pernak memandang berarti dai tidak pernah melihat , maka ia tetap dalam kebutaan dan kesesatan.
[17] Sebuah paradigma keilmuan yang memposisikan fakta yang terlihat sebagai paliang substansi dari substansi-substansi yang lain dalam mendevisinikan kebenaran.
[18] Hume adalah filosof kebangsaaan Inggris. Ia adalah seorang yang paling terkemuka dikalangan filsuf karena dia mengembangkan filsafat empirisme Locke dan Berkeley menjadi konklusi logis dan menjadikan luar biasa lantaran membuatnya konsisten, untuk lebih bisa memahami kehidupan Humle baca Sejarah filsafat barat , terj Sigit jatmiko dkk.(Yogyakarta;pustaka pelajar,2002).
[19] Muhammad karim, pendidikan kritis transfor matif(Yogyakarta;Ar-Ruzzz Media, 2009)hal 40.
[20] Faqih Mansur, Idologi dalam pendidikan” (sebuah pengantar dalam buku Ideologi-ideologi pendidikan), Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Tiada kekayaan yang lebih Utama dari pada Akal , tiada kepapaan yang lebih menyedihkan dari pada kebodohan , dan tiada warisan yang palaing baik dari pada Pendidikan (Ali bin Abi Thalib).
Proses penciptaan Intelektual itu berlangsung lama, sulit, penuh dengan tantangan, melalui proses maju, mundur, bubar dan membentik kembali…(Antonio gramsci)
Epistimologi pendidikan di Inggris adalah hal yang menarik dengan adanya akulturasi Intelektual akibat pengaruh Revolusi prancis dan Revolusi Industri telah mengubah wajah peradaban Eropa menjadi peradaban yang maju. Hal ini tidak lain karena tokoh intelektualnya mengadakan revolusi pemikiran yang semula Dogmatis menjadi rasionalis. Mulai abad kebangkitan di abad ke-16 telah terjadi disposisi filsafat pendidikan yang secara umum berhaluan Empirisme dan Rasionalisme, meskipun kedua ini salaing bertentangan tetapi menjadi filsafat pendidikan di Inggris. Kemudian muncul berbagai aliran akibat pergumulan dua paradigma tersebut yaitu Empirisme, Bahafiorisme (filosofis), empirisme (filosofis), empirisme biologis, pragmatisme, Instrumentalisme, eksperimentalisme, hidonisme piskologis, reinforcement, Relativisme Budaya, Demokrasi social, Subjektivisme Substansial, liberasionisme.
Filsafat pendidikan Islam dengan dasar Qur’an dan As-sunah dengan pendekatan rasional falsafi telah membawa peradaban maju, kemudian Hancur dan bangkit lagi. Dengan tokoh-tokohnya seperti Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Sina,ibnu khaldun,al-Ghazali, ikhwan As-Sifa. Telah membawa pendidikan Keranah yang lebih nyata.
Kata kunci: Epistimologi, Inggris,Rasionalisme, empirisme, pendidikan Islam
Pendahuluan
Filsafat berasal dari kata arab yang berhubungan erat dengan kata Yunani, bahkan memang asalnya dari kata Yunani yaitu, philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia; philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Definisinya, filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya dari segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli, dan bagi Aristoteles filsafat adalah ilmu yang mencari kebenaran pertama, segala yang maujud dan ilmu segala yang ada yang menunjukkan adanya penggerak pertama
Bagi Al-Farabi filsafat adalah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Al-Kindi berpendapat filsafat merupakan pengetahuan tentang hakekat segala sesuatu, dan ini mengandung teologi (al-rububiyah), ilmu tauhid, etika dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat Ibnu Sina mengaitkan filsafat dan kesempurnaan diri: filsafat adalah penyempurnaan jiwa manusia melalui pengkonsepsian hal ihwal dan penimbangan kebenaran-kebenaran teoritis dan praktis dalam batas-batas kemampuan manusia.
Dari berbagai keterangan di atas bisa dikatakan bahwa "filsafat" adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis, untuk mencari hakekat kebenaran sesuatu, baik dalam logika, etika maupun metafisik. Untuk itu studi falsafi mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi
Perjalanan Nalar Epistimologi Pendidikan di Inggris (Eropa)
Mungkin ada benarnya apa yang telah dikatakan Francis Fukuyama dalam buku kontroversional, The End Of HistorY and The Last man (1992), bahwa sejarah telah berakhir karena demokrasi liberal barat telah mengunggguli komunisme yang ditandai dengan runtuhnya uni soviet. Ini merupakan sejarah panjang pembentukan nalar filsafat moderen di eropa khususnya di Inggris.
Perjalanan panjang menuju nalar moderen yang digagas oleh dedengkot filosof Inggris untuk memajukan pendidikannya dapat ditelusuri seperti dalam artikel “Modernity versus postmodernity”, Jurgan Habermas menjelaskan istilah “moderen” adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut era baru (New ege), yang berfungsi untuk membedakan dengan masa lalu(the ancient).[1]
Artinya mederen itu tidak semata-mata hanya ditandai dengan munculnya renaissance atau enlightenment[2] tetapi itu yang memulai, di Negara Eropa Prancis, Inggris, dan Jerman. Bertrand Russel mengungkapkan ada dua hal yang terpenting yang menandai sejarah pendidikan modern di Inggris atau di Eropa, yakni runtuhnya otoritas gereja dan menguatnya otoritas sains (rasional).[3]
Ada beberapa tesis yang bisa diambil untuk memahami peristiwa kemajuan revolusi ilmiah di Inggris. Pertama, revolusi ilmiah selalu dikaitkan dengan proses sekulerisasi atau tercabutnya kekuasaan agama dalam system social politik yang memungkinkan sain lepas dari kungkungan institusi kungkungan agama. Di Eropa demikian juga diInggris telah tercatat dalam sejarah pada Abad ke 16 dan 17, ketika itu era Renaissance, agama-sebagai institusi yang sangat dominant dan hegemoni di eropa dikala itu-mengalami perubahan radikal dalam posisinya sebagai pemegang otoritas penuh segala bentukkebenaran. Tetapi lepasnya sains dari otoritas agama tidak menjadikan indepindensi.[4]
Disisi lain , dalam hal perkembangan pengetahuan sekuler dan skeptisme[5]sudah menjadi landasan tradisional ilmu pengetahuan , wancana ilmu pengetahuan yang menjadi topic utama pada zaman kebangkitan pendidikan Filsafat di Inggris dan secara umum dieropa. Pada abad ke-17 topik utama adalah persoalan epistimologi[6].
Pernyataan pokok dalam bidang epistimologi adalah bagaimana manusia memeperoleh pengetahuan yang benar ? serta apa yang dimaksud dengan “kebenaran itu”? untuk menjawab pernyatan-pernyataan itu yang bercorak epistimologi in, maka dalam filsafat zaman awal kemajuan inggris yakni pada abad ke-17muncullah aliran filsafat yang memberikan jawaban berbeda, bahkan saling bertentangan. Alirantersebut adalah aliran empirisme dan Rasionalisme
. Tetapi sebelum membincang tentang dua aliran filsafat pendidikan tersebut perlu penulis kemukakan ulasan teori yang dirangkum dalam jalur penalaran di eropa dalam pandangan William bahwa nalar pendidikan di inggris didasari yang bernama system pengetahuan rasional, empirisme dan positivisme.
William melanjutkan dan menguraikan dari dasar filosofis epistimologis pendidikan di Inggris (Eropa)[7], yaitu Empirisme, Bahafiorisme (filosofis), empirisme (filosofis), empirisme biologis, pragmatisme, Instrumentalisme, eksperimentalisme, hidonisme piskologis, reinforcement, Relativisme Budaya, Demokrasi social, Subjektivisme Substansial, liberasionisme, liberalisme pendidikan.
Kemudian Wiliam mengungkapkan juga dalil-dalail pokok liberelisme pendidikan yang terjadi diInggris :
seluruh hasil kegiatan belajar adalah pengetahuan melalui pengamalan personal
seluruh hasil kegiatan belajar bersifat subjektif dan selektif[8].
Seluruh hasil kegiatan belajar beraakar pada keterlibatan pengertian indrawi[9] .
Seluruh hasil –hasil belajar didaari oleh proses pemecahan masalah secara aktif dalam pola” coba benar-salah” atau (trial and eror)
Cara belajar yang baik diatur oleh perintah-perintah eksperimantal yang bercirikan metode ilmiah
Pengetahuan yang terbaik adalah yang paling selaras dengan (atau mungkin derdasarkan) pembuktian ilmiuah yang dianggap benar sebelumnya
Kegiatan belajar diarahkan dan dikendalikan oleh konsekuensi –konsekuensi emosional dari perilaku
Sifat-sifat hakiki dan isi pengetahuan social mengarahkan dan mengendalikan sifat-sifat haiki dan isi pengalaman personal
Penyelidikan kritis yang mempunyai arti penting hanya bisa berlangsung dalam masyarakat yang demoratis dan memiliki komitmen terhadap ungkapan umum pemikiran dan perasaan individual.
Itulah dalil dalail yang ditawarkan William kala berbicara pendidikan Di Inggris yang telah terkontaminasi oleh racun rasional.
Kembali pada perbincangan tentang filsafat berepistimilogi rasional dan empirisme yang berpengaruh terhadap perkembangan di Eropa tetapi ketika berbicara tentang epistimilogi mana yang dijadikan dasar pendidikan di Inggris. Secara sepintas dua peradigma tadi rasionalisme dan empirisme bangunan berfikirnya berbeda dan saling menjauh. Tetapi, dalam epistimologi pendidikan di Inggris kedua paradigma tersebut secara kontinuitas memberi pengaruh terhadap perjalanan pendidikan di Inggris[10]. Dalam hal ini Karim(2009) melihat landasan Epistimologi peradaban barat[11] sebagai argument dalam menguraikan keterkaitan dua paradigma tersebut.
Rasionalisme[12]
Ren’t Descrates[13] adalah seorang filsof yang disinyalir sebadai pembuka gerbang moderen khususnya diinggris dan umumnya di eropa. Ia adalah seoerang pertama yang memiliki kapasias filosofi tinggi dan sangat dipengaruhi fisika dan astronomi baru[14]dia sendiri tokoh rasionalisme ren’t deskrates (1595-1650)[15] telah dianggap sebagai bapak rasionalisme moderen di inggris (barat)yang sampai saat ini masih dijadikan landasan pembangunan peradaban. Julukan itu tidak begitu berlebihan sebab sejak kelahiran Deskrates, kesadarannya betul-betul digumuli dalam filsafat.
Pemikiran Deskrates yang kemudian terkenal dengan jargon “Co Gito Ergo sum” yang sering didistilahkan dengan “metode kesangsian”yang digunakan untuk menemukan sebuah kepastian[16].
Empirisme.[17]
Empirisme dapat dikatakan sebagai doktrin yang meluas dalam pola pendidikan di Inggris yang mengatakan bahwa seleuruh pengetahuan harus dicarai dalam pengalaman yang berpandangan bahwa semua ide gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami . secara umum empirisme berlawanan dengan Rasionalisme.
Tokoh yang representative dalam gambaran relative aliran empirisme. David Hume (1711-1776)[18]ditangnnya lah empirisme manjadi radikal dengan metode sekeptismenya.
Dalam pandangan , yang bisa diketahui hanyalah persepsi dan bukanlah objek diluar diri kita, dalam duania pendidikan , system control dan evaluasi jamak digunakan oleh para guru terhadap peserta didik adalah metode induksi yaitu penilaian aktifitas danmemberlakukan secara universal terhadap seluruh siswa dengan hanya melihat kebiasaan mereka secara umum tanpa memeperhatikan secara lebih dan keragaman karakter mereka.
Rasionalisem maupun Empirisme Sebagai Filsafat fundamental yang mengarahkan gerak pendidikan di Inggris.
Bagan Landasan Epistimologi pendidikan Di Inggris[19][20]
Rasionalisme
Empirisme
Tokoh
Pemikiran
Tokoh
Pemikiran
plato
Pengetahuan, Ide, kebenaran akan lahir Innate/a priori
aristoteles
Kebenaran lahir setelah abstraksi bersentuhan langsung dengan objek dari Aposterotori ke Fenomena ke Abstraksi ke Objek
Arcesileus dan diogenes
Akibat masuknya hellenisme maka kedu tokoh ini dengan sekeptisisme dan sinisnya tidak menawarkan tesei apa pun.
Epikurus dan Zeno
Meskipun dipengaruhi paham hellen namun masih menaruh harapan pada ilmu pengetahuan sepanjang dapat memberi penjelasan yang naturalistic atas fenomena uyang dipercaya.
Ren’t Deskrates
Co gito ergo sum” metode kesangsian deskrates
Francis Bacon
Metode inklusi ; menarik kesimpilan dari umum ke khusus dari pengamatan yang khusus
Baruch de Spinoza
Memandang antributif identik dengan alam semesta
Thomas hobes
Kenyataan akhir adalah kenyataan indrawi menurut Hobes tologi bukan lah filsafat karena filsafat berbicara masalah lahiriah sehingga hanya empat saja ilmu yang dianggap sah yaiti geometri, Fisika, Etik, dan Politik
GW Von Libniz
Ada bentuk substansi yang berbentuk monad, monad substansi yang bukan kenyataan jasmani
David Hume
Substansi kumpulan persepsi sematakarena pikiran membuat artifisisal semata
Jhon locke
Dengan bertolak pada pengalaman ide-ide yang terjadi melalui proses pengindraan yang hasilnya disebut ide simplek
Demikian gambaran rancangan Epistimologi yang di jadikan dasar pendidikan di Inggris.
[1] Ali maskum dan luluk Yunan. Paradigma pendidikan Universal (Yogyakarta: Ericisod,2004), hal 24
[2] Ranaissence atau enlightenment ditandai dengan pertama, zaman ketika ilmu-ilmu dan teknologi berkembang , kedua munculnya gerakan –gerakan intelektual yang kritis terhadapp mitos , metafisika,tradisi, otoritas, dogmatisme dan seterusnya
[3] Bartrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, terj Sigit jatmiko(Dkk) (Yogyakarta : pustaka pelajar, 2002), hal. 645
[4] Yasid, sains dan Islam
[5] Sekuler : sebuah pemikiran yang dimulai dari kritik kebebasan terhadap otoritarianisme gereja (symbol agama) di eropa (Inggris), tetapi kemudian terlanjur dengan pemisahan dan distorsi hingga menjadi biner oposisi.
[6] Epistimologi : hal atau katalis yang membicarakan sumber pengetahuan dan bagai mana cara memperolehnya, misalkan pembahasan rasionalisme, empirisme, positivisme,dll.
[7] Dari uraian ini kiat akan melihat bahwa gelombang perkembangan pendidikan di Inggris pada umumnya dipengaruhi oleh semangat positivisme yang rasional, empirisme dan positivtikdengan pendekatan saintifik dan jauhnya semangat intuisi keagamaan.
[8] Istilah personal”,”subjektif”,”selektif” istilah ini akan mewakili kebebasan individu yang banyakmuncul dengan filsafat moderen yang Rasional(Co gito ergo sum), sedangkan istilah “ selektif” mewakili kompodsisi individu yang akan melahirjkan penegasan akan diri dan panegasan yang lain, sebuah rasio yang kehilangan sisi humanitasnya.
[9] Selain rasio indrawi jug amenjadi alat alat kepercayaanuntuk mendefisinikan suatu kebenaran, indrawi merupakan turunan dari aliran filsafat empirisme yang merupakan lawan dari Rasionalisme
[10] Muhammad karim, pendidikan kritis transformative, (Yogyakarta: Ar-Ruzz media, 2009)
[12] Rasionalisme sebuah paradigma yang mempercayai adanya ide-ide bawaan yang bersifat substansi rasio yang mendefisisnikan dan memformulasikan kebenaran.
[13] Ren’t Deskrates Filosof kebangsaan inggris, ayahnya adalah seorang ketua parlemen inggris yang memeiliki tangah yang cukup luas . ia adalah anak yang cukup cerdik, seorang pembisnis , tentara dalam bukunya Sejarah filsafat barat , terj Sigit jatmiko dkk.(Yogyakarta;pustaka pelajar,2002), hal.732.
[14] Dudi Hariman, Filsafat moderen, (Jakarta;Gramedia pustaka,2004),hal.37
[15] ejarah filsafat barat , terj Sigit jatmiko dkk.(Yogyakarta;pustaka pelajar,2002), hal.733
[16] Sedang dalam islam Al-Ghazali mempunyai “metode keraguan Ghazali” yang sering mnengatakan “ keraguanlah yang mengantarkan pada kebenaran, barangsiapa yang tidak bisa maju maka dia tidak memandang, barang siap[a tidak pernak memandang berarti dai tidak pernah melihat , maka ia tetap dalam kebutaan dan kesesatan.
[17] Sebuah paradigma keilmuan yang memposisikan fakta yang terlihat sebagai paliang substansi dari substansi-substansi yang lain dalam mendevisinikan kebenaran.
[18] Hume adalah filosof kebangsaaan Inggris. Ia adalah seorang yang paling terkemuka dikalangan filsuf karena dia mengembangkan filsafat empirisme Locke dan Berkeley menjadi konklusi logis dan menjadikan luar biasa lantaran membuatnya konsisten, untuk lebih bisa memahami kehidupan Humle baca Sejarah filsafat barat , terj Sigit jatmiko dkk.(Yogyakarta;pustaka pelajar,2002).
[19] Muhammad karim, pendidikan kritis transfor matif(Yogyakarta;Ar-Ruzzz Media, 2009)hal 40.
[20] Faqih Mansur, Idologi dalam pendidikan” (sebuah pengantar dalam buku Ideologi-ideologi pendidikan), Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Label:
Filsafat


